Sabtu, 27 April 2013

Berpacaran dengan cara yang benar !


Berpacaran dengan cara yang benar !
yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Efesus 4:22-24
Bukan masalah boleh atau tidaknya berpacaran, yang jadi masalah apa yang menjadi motivasi berpacaran dan bagaimana itu dilakukannya. Kalau kamu betul-betul serius ingin mengubah cara berpacaranmu atau memulainya dalam kebenaran, yuk...perhatikan kelima cara pandang di bawah ini yang akan mengubah motivasi dan caramu melakukan pacaran.
1. Bagi saya, setiap hubungan adalah kesempatan untuk meneladani kasih Kristus.
Teoritis banget....kedengarannya. Tapi memang, hanya kebenaran inilah yang akan memberikan dasar berpacaran dengan cara yang benar. Perhatikan contoh kasus di bawah ini:
Beti adalah seorang mahasiswi tingkat pertama yang ramah di sebuah universitas Kristen dan memiliki reputasi agak genit. Sayangnya, sebagian besar interaksinya dengan pria bersifat palsu – hubungan itu berfokus untuk menarik perhatian bagi dirinya sendiri dan mendapatkan reaksi dari siapapun yang saat itu disukainya. Beti menginvestasikan lebih banyak energi untuk membuat seorang pria menyukai dirinya daripada untuk memacu kekasihnya untuk bertumbuh imannya dalam Kristus.
Tetapi ketika Beti mengubah cara pandangnya dan menyadari bahwa persahabatannya dengan para pria merupakan kesempatan untuk mengasihi mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Kristus, terjadi perubahan 180 derajat di dalam dirinya, dari kasih yang menggoda menjadi kasih Agape, yang memperlakukan para pria sebagai saudara laki-laki, bukan sebagai pacar yang potensial. Bukannya memandang dirinya sebagai pusat alam semesta di mana semua orang lain berputar mengelilingi dirinya, melainkan justru menolong orang lain menemukan pusat alam semesta yang sesungguhnya yaitu Yesus.
Kalau kita menjalani hidup dengan cara pandang ini, maka sesungguhnya kita sedang menyiapkan hati untuk terbiasa dengan Kasih Agape, kasih yang tidak egois, kasih yang akan sanggup mengikat seorang pria dengan wanita dalam pernikahan sampai akhir hayat mereka.
2. Bagi saya, masa lajang adalah karunia Allah
Ambillah kertas dan pulpen, buatlah daftar hal-hal positif apa saja yang hanya dapat dilakukan dengan leluasa dalam masa lajang dan akan menjadi sulit bahkan mustahil dilakukan setelah menikah. Kamu akan terkejut dengan banyaknya daftar yang dibuat.
Sebelum kita menyadari bahwa masa lajang kita adalah karunia Allah, maka kita akan terus kehilangan kesempatan-kesempatan luar biasa yang ada di dalamnya.
Bahkan mungkin saat ini kita dapat berpikir tentang sebuah kesempatan yang dapat kita raih jika kita melepaskan pola pikir tentang kencan. Sebagai seorang lajang, saat ini kita memiliki kebebasan untuk bereksplorasi, belajar dan menghadapi dunia. Tidak ada waktu lain di dalam hidup kita yang akan menawarkan lagi kesempatan-kesempatan tersebut.
3. Bagi saya, Saya tidak perlu mengejar hubungan percintaan sebelum saya siap untuk menikah.
Sukacita keintiman adalah upah dari sebuah komitmen.
Allah telah menciptakan kita semua dengan suatu hasrat untuk memiliki keintiman, dan Ia sendiri akan mengupayakan supaya kita dapat mengalaminya suatu kelak nanti. Ketika kita masih lajang, Allah tidak mengharapkan hasrat ini hilang, tetapi Ia meminta supaya kita sabar menantikan waktunya dan selama masa penantian ini, hasrat ini dapat disalurkan dengan hubungan intim yang dibangun dengan keluarga dan persaudaraan dalam Kristus.
Cinta akan Allah berikan seiring dengan gaya hidup membangun keintiman secara sehat dalam persaudaraan dalam Kristus, kapan waktunya cinta itu diberikan adalah rahasianya Allah.
Ini tidak berarti bahwa kita harus menikahi orang pertama di mana kita menemukan keduanya, yaitu cinta dan keintiman. Walaupun ada saja beberapa orang yang menikahi orang pertama dengan siapa mereka telah mengembangkan hubungan intim dan romantik, tapi sebagian besar pasangan yang dijumpai tidak mengikuti jalur ini.
Yang jadi masalah bagaimana kita dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah orang yang kelak akan kita nikahi? Bertanya kepada Tuhan? Tidak semudah itu, ternyata.
Kita butuh orang lain yang bisa dipercaya! Kita butuh seorang kakak yang pernah mengalami hal yang sama, yang telah menikah, yang memahami Kebenaran Firman Tuhan dan yang dapat menolong kita untuk tidak salah menentukan sikap.
Orang inilah yang bisa kita jumpai kalau mengikuti Bimbingan PraNikah (BPN) Abbalove.
Mengikuti Bimbingan PraNikah bukan berarti sudah harus memiliki pasangan yang sudah siap menikah, tapi di saat hati ini sedang bimbang dalam menentukan pilihan kita sudah dapat mengikuti konseling yang dilayani oleh para Pembina PraNikah Abbalove.
4. Bagi saya, saya tidak dapat “Memiliki” seseorang di luar pernikahan
Dalam pandangan Allah, dua orang yang menikah adalah menjadi satu kesatuan. Dan ketika kita terus bertambah dewasa, sering kali kita akan mengukir kesatuan yang berasal dari berbagi kehidupan dengan seseorang lawan jenis yang di luar konteks pernikahan. Satu hal yang kita boleh lupakan, bahwa sebelum kita siap untuk mengikat diri kita di dalam pernikahan, kita tidak memiliki hak untuk memperlakukan siapapun seolah-olah orang itu adalah milik kita.
Mintalah Allah menunjukkan kepada kita, apakah kita perlu mengevaluasi kembali hubungan khusus kita dengan seseorang yang sedang dibangun saat ini.
5. Bagi saya, saya akan menghindari situasi-situasi yang dapat membuat saya berkompromi dengan kesucian tubuh atau pikiran saya
Jessica, adalah seorang gadis yang sangat naif. Walaupun ia masih perawan dan telah berkomitmen untuk menyimpan seks hingga pernikahan, ia menempatkan dirinya dalam situasi-situasi yang memungkinkan terjadinya kompromi dengan pacarnya – mengerjakan tugas sekolah di rumahnya ketika ibunya pergi, berenang berdua, mengakhiri kencan mereka di mobil yang diparkir. Jika Jessica jujur, ia akan mengakui bahwa ia menyukai kenikmatan dari situasi-situasi tersebut. Ia merasa bahwa hal itu sangat romantik, dan hal itu memberikan kepadanya perasaan dapat mengendalikan pacarnya, yang, jujur saja, akan menuntut hubungan fisik yang semakin jauh.
Tetapi ketika Jessica mengambil sebuah sikap baru, ia melihat bahwa kekudusan adalah lebih dari sekedar mempertahankan keperawanan. Ketika ia secara jujur menguji hubungannya dengan pacaranya, ia menyadari bahwa ia telah membelok dari jalur kekudusan. Untuk kembali ke jalur yang benar, ia harus mengubah gaya hidupnya secara drastis. Pertama-tama ia memutuskan hubungan dengan pacarnya karena hubungan itu berfokus pada aspek fisik. Kemudian ia berjanji untuk menghindari situasi-situasi yang membuatnya bisa berkompromi terhadap dosa.
Di mana, kapan dan dengan siapa kita memilih untuk menghabiskan waktu kita akan mengungkapkan seberapa jauh komitmen kita terhadap kekudusan. Ujilah kecenderungan-kecenderungan ini. Jika benar adanya, pastikan bahwa kita tidak menempatkan diri lagi dalam situasi-situasi yang membuka celah pada godaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar