Minggu, 11 Maret 2012

Kualifikasi Seorang Penafsir Alkitab-Hermenutika

BAB I
PENDAHULUAN

Pernahkah kita bertanya, kenapa harus menafsirkan firman Allah?Jika kamu pernah menanyakan hal ini kemungkinan besar kamu merupakan orang Kristen yang terus belajar dan mendalami firman Allah.
Seperti diketahui Ezra dikenal sebagai Bapak Hermeneutika.Dialah orang pertama yang menafsirkan Kitab Suci bagi umat Israel.Bagaimana sejarah terjadi penafsiran firman Allah?Pada masa itu bangsa Israel dibuang Allah ke Babilonia selama 70 tahun karena ketidaktaatan dan pembrontakan mereka.Di Babilonia umat Israel mempelajari bahasa setempat dan bahasa Ibrani merupakan bahasa yang dipakai hanya ketika acara ibadah diselenggarakan di rumah-rumah ibadat Israel yang dikenal dengan sinagoge (di sinilah awal mula berdirinya rumah-rumah ibadat Israel).Namun bahasa sehari-hari dan bahasa resmi yang dipakai adalah bahasa Babilonia (Aramik) itu sendiri.Dengan demikian bisa dipastikan bahwa ada banyak umat Israel yang tidak mengerti bahasa dan tulisan Ibrani terutama bagi mereka yang lahir semasa pembuangan di Babilonia.
Sekembalinya umat Israel dari Babilonia yang dipimpin Zerubabel, Ezra dan Nehemiah, mereka siap membangun kembali kota Yerusalem dan Bait Allah yang sudah dihancurkan Nabukadnezar. Meskipun dilalui dengan berbagai masalah dan tantangan,akhirnya pembangunan itu bisa dilakukan. Pada suatu perayaan Pondok Daun, Ezra atas permintaan umat Israel membaca Kitab Taurat Musa, “kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel” (Ezra 8:2) dan seluruh umat Israel, laki-laki dan perempuan dengan penuh perhatian mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu serta maknanya (Ezra 8:9).
Fakta di atas memberikan petunjuk bahwa penafsiran firman Allah dilakukan karena umat Israel sudah tidak mengerti bahasa asli firman Allah sesuai dengan konteks, kultur dan tata bahasa bahasa Ibrani. Ezra sebagai pengantara berperan menjembatani kejenjangan tersebut dengan memberikan pengertian atas pembacaan firman Allah itu karena ialah nabi Allah yang mengerti bahasa asli kitab suci, bahasa Ibrani.Jadi penafsiran sangat dibutuhkan orang-orang Israel yang tidak mengerti bahasa asli Kitab Suci.

BAB II
HERMENEUTIKA

A.    Arti Hermeneutika
Sebelum membahas apa saja yang menjadi kualifikasi seorang penafsir firman Allah, ada baiknya mengerti terlebih dahulu mekanisme dalam menafsirkan firman Allah yang dikenal dengan istilah Hermeneutika. Apa yang dimaksud dengan Hermeneutika? Kamus Webster memberikan definisi “Hermeneutika” sebagai berikut: “Ilmu yang mempelajari tentang tafsiran, atau penemuan arti dari kata-kata atau frase penulis dan mengartikannya kepada orang lain; eksegese, secara khusus diaplikasikan pada penafsiran Firman Allah.”
Para ahli teologia juga mendefinisikan demikian, “Hermeneutika adalah ilmu pengetahuan dan seni tafsiran Alkitab[1].Lebih jelas lagi “Hermeneutik adalah salah satu bagian dari teologi yang mempelajari teori-teori, prinsip-prinsip dan metode-metode penafsiran Alkitab”[2].
Hermeneutika dikatakan sebagai ilmu pengetahuan (Science) karena “berhubungan dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam sistem yang teratur. Hal ini dimaksudkan untuk menarik dan mengklasifikasikan prinsip-prinsip yang penting untuk penafsiran yang benar akan Firman Allah (Alkitab).” Dengan kata lain “sebagai ilmu pengetahuan hermeneutik menggunakan cara-cara ilmiah dalam mencari arti yang sesungguhnya dari Alkitab. Prinsip-prinsip yang dipergunakannya merupakan suatu sistem yang masuk akal, dapat diuji dan dipertahankan”.
\
B.     Hermeneutika Bagi Seorang Penafsir.
            Pengetahuan menafsir firman Allah berhubungan dengan mekanisme (cara kerja) dari hermeneutika. Sedangkan seni “menafsirkan” berhubungan dengan keahlian penafsirnya. Namun kita harus mengetahui bahwa sekalipun banyak orang mempelajari pengetahuan dan seni “menafsirkan Alkitab,” kita tidak menemukan ada dua penafsir firman Allah yang benar-benar sama. Oleh karena itu, seandainya ada dua orang yang memakai langkah pengetahuan ‘penafsiran’ yang sama, maka mereka akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda.
Perlu kita ketahui bahwa pengetahuan akan prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan ‘cara menafsir’ semata-mata tidak dapat membuat seseorang menjadi penafsir yang baik.  Dalam kehidupan kita sehari-hari kita dapat bandingkan dengan permainan tenis. Seseorang yang mengetahui prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan permainan tenis ataupun golf tidak berarti bahwa dia menjadi seorang pemain yang baik. Oleh karena itu, ada qualifikasi tertentu yang harus dimiliki oleh setiap orang yang berkeinginan menafsirkan firman Allah dengan benar. Kita sebagai pelajar Alkitab yang ingin melayani Tuhan perlu mengetahui bahwa kita mempersiapkan diri untuk menjadi pelayan yang baik, yang malayani jemaat Tuhan dalam gerejaNya. Oleh karena itu kita tidak boleh menganggap remeh cara menafsirkan Alkitab karena jika kita salah, maka semua orang yang kita ajar akan sesat dan menuju kebinasaan.
            “Perlu diingatkan bahwa seorang penafsir yang baik adalah seorang yang sudah memperoleh persiapan yang memadai. Adalah lebih menguntungkan jika yang bersangkutan mendapat pendidikan yang cukup baik, sehingga ia dapat membaca dengan lancar, bahkan dapat menguasai beberapa macam bahasa asing. Ia juga akan lebih mudah mengerti isi Alkitab jikalau sudah memiliki pengetahuan dasar tentang bahasa-bahasa yang dipakai oleh pengarang-pengarang Alkitab.”[3]
Mengetahui bahasa asli Alkitab akan sangat menolong bagi seorang penafsir firman Allah tetapi hal ini bukan berarti bahwa seorang yang tidak mengetahui bahasa asli Alkitab tidak bisa manafsirkan firman Allah dengan baik dan benar. Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam mempersiapkan seorang penafsir firman Allah adalah mental dan intelektual. “Secara mental dan intelek seorang panafsir harus orang yang sehat, yang dapat berpikir dengan jelas, teratur bahkan sanggup ‘sedikit berfantasi.”[4] Ini semua akan membantu seseorang dalam menafsirkan firman Allah dengan baik dan benar.
Namun bagi pengajar-pengajar sesat, mereka tidak memperdulikan prinsip-prinsip penafsiran dalam mengerti firman Allah tetapi mereka menafsirkan firman Allah sesukanya. Mereka tidak menyadari apa yang mereka perbuat karena mereka buta secara rohani. Sekalipun mereka mengetahui pentingnya cara penafsiran Alkitabiah, mereka menerapkannya dengan mata yang buta. Sebagai akibatnya, kebenaran firman Allah dirusak dengan berbagai kesalahan dan kedustaan.


 
BAB III
PERSYARATAN BAGI SEORANG PENAFSIR

1.      Macam-macam Penafsir

A.    Penafsir yang Mementingkan Pelaksanaan Hukum (Legal Interpreters-Kis.13:27).
Pada umumnya, pemimpin-pemimpin yang disebutkan dalam Kis.13:27 itu adalah para imam, ahli Taurat, dan orang-orang Farisi pada zaman Kristus. Para ahli Taurat adalah penafsir resmi atas ayat-ayat kitab suci Perjanjian Lama. Karena hanya terikat pada apa yang tersurat dan mementingkan pelaksanaan Hukum (legalisme), mereka salah menafsirkan suara-suara nabi-nabi dan akhirnya mereka menyalibkan Kristus berdasarkan penasiran legal mereka.

B.     Penafsir Palsu
Ayat-ayat dalam 2Kor.4:2, Efs.4:14, dan 2Ptr.3:16 adalah menunjukkan orang-orang yang dengan senagaja menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara salah, sehingga mencelakakan jiwa mereka sendiri serta jiwa orang-orang yang mengikuti mereka. Orang-orang ini’selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran” (2Tim.3:7).

C.    Penafsir yang Benar.
Dalam Lukas 24, Yesus dinyatakan kepada kita sebagai penafsir yang sempurna. Ayat 27 mengatakan ,”Ia menjelaskan (Yunani-menafsirkan) kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci.”Semua penafsir yang benar harus menjadikan Dia sebagai contoh. Nasihat dalam Kitab Suci bagi seorang penafsir yang benar adalah, usahakanlah supaya engkau layak dihadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang terus terdang, memberitakan perkataan kebenaran (2Tim.2:15).


2.      Kualifikasi Seorang Penafsir.[5]
& Sudah lahir baru.
“Jawab Yesus: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak  dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh” (Yoh.3:5-6)

& Memiliki hati yang rindu akan Firman (Yer.15:16; Maz.19:8-1).
“Apabila akubertemu dengan perkataan-perkataan-Mu,maka  aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi  kegirangan bagiku, dan menjadi  kesukaan  hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.”

& Memiliki sikap rendah hati(Kis.20:19; Flp.2:3).
“Dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku.”(Kis.20:19).

& Memiliki sikap hormat dan menghargai Firman.
“Maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu.”(Mzm.119:6).

& Menerima sepenuhnya doktrin inspirasi (pengilhaman) Sirman Tuhan (2Tim.3:16; 2Ptr.1:2).
“Segala tulisan  yang  diilhamkan Allah  memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”( 2Tim.3:16).

& Memiliki pendekatan Firman Allah dalam iman yang benar (Ibr.11:3, 6). “Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.”(Ay.3)
“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”(Ay.6)

& Memiliki pikiran yang diperbaharui (Rm.12:1-2; 1Kor.2:14-16; Flp.2:2-3).
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”(Roma 12:1-2)

& Bergantung pada penerangan dan pengurapan Roh Kudus (1Kor.2:7-16).
& Memiliki roh dan sikap suka berdoa (Kis.6:4; 1Tes.5:17).
“Dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.”(1 Tesalonika 5:17)

& Suka merenungkan Firman Allah (Mzm.1:2; 119:48, 78, 148; Yos.1:8).
“Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat  itu siang dan malam.”(Mzm.1:2).

& Jujur dalam pemikiran (2Kor.4:2; Efs.4:14).
 “Tetapi kami  menolak  segala  perbuatan tersembunyi  yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami  menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.” (Efesus 4:14)

& Mengakui kesatuan Roh dan Firman Allah (1Yoh.5:7-8).
“Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.  Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.”

& Mengakui kesatuan dan keselarasan Firman Allah yang progresif (Alkitab adalah satu kesatuan).
Kesatuan proses pemberian firman Allah yang progresif: Walaupun buku-buku dalam Alkitab dicatat oleh orang yang berbeda-beda dan dalam masa yang berbeda pula, Allah menyatakan kebenaran dan rencana penyelamatan manusia itu semakin jelas. Dengan kata lain doktrin-doktrin dalam kitab-kitab terdahulu ditulis saling berhubungan dengan doktrin-doktrin yang ditulis dalam kitab-kitab berikutnya. Bahkan rencana Allah akan semakin jelas dalam kitab-kitab yang ditulis dalam Perjanjian Baru dibanding dengan kitab-kitab dalam  Perjanjian Lama.

& Mengerti hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Yer.31:31-34).
“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan  mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,  bukan  seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”

& Rajin mempergunakan bahan-bahan yang ada untuk mengerti Firman Allah (1Tim.4:13; 2Tim.2:15).
“Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.”

& Memiliki pemikiran yang jernih (2Tim.1:7).
“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

·         Ia memiliki keseimbangan pikiran yang baik, tidak berkhayal terlalu tinggi, tidak tergesa-gesa dalam mengadili dan tidak berkeinginan yang bodoh.
·         Ia cepat dan bersih dalam pikiran.
·         Ia cerdas dalam intelektual.
·         Ia memiliki kemampuan memberikan alasan dengan adil dan benar.
·         Ia mampu berkomunikasi dengan jelas.

Menurut M.S Terry[6], seorang penafsir harus memiliki beberapa persyaratan,seperti:
1.      Syarat Intelektual (tekun belajar, mempunyai pengetahuan yang luas).
2.      Syarat Akademis (Mempunyai keseimbangan berpikir).
3.      Syarat Spiritual:
v  Lahir Baru (1Kor:14)
v  Rendah Hati (Mat.11:25)
v  Taat (Ez.7:10)
v  Lapar dan haus Firman Tuhan (Mat.5:6).


3.      Peranan Khotbah Penafsir.
1.         Khotbah Sebagai Sarana Untuk Mengajar Iman Kristen/Doktrin
Pertama-tama, khotbah dimaksudkan bukan sebagai sarana menghibur jemaat (entertainment), tetapi khotbah itu sebagai sarana untuk mengajar iman Kristen/doktrin. Pdt. Erastus Sabdono, M.Th.[7] di dalam salah satu khotbahnya mengatakan bahwa gereja adalah sekolah Alkitab. Berarti, khotbah mimbar di gereja juga sebagai sebuah studi Alkitab dan doktrin.Mengapa khotbah sebagai sarana untuk mengajar doktrin?Karena khotbah yang mengajar doktrin iman Kristen adalah khotbah yang berisi sesuatu yang terpenting yang harus dipegang di dalam iman dan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, doktrin iman Kristen adalah doktrin/ajaran yang paling penting yang membentuk iman, karakter, dan kehidupan sehari-hari kita sebagai umat-Nya di dunia ini.
Ketika khotbah tidak lagi mengajar doktrin, maka dapat dipastikan banyak orang “Kristen” meskipun menyebut diri “Kristen”, tetapi sebenarnya atheis praktis, materialis, hedonis, dan pragmatis. Mereka berani mengaku di depan umum sebagai seorang “Kristen” bahkan “melayani Tuhan”, tetapi mereka lah justru yang melarang nama Tuhan dan theologi dipakai di dalam ilmu sebagai pengejawantahan integrasi iman dan ilmu. Pertanyaan lebih lanjut, apakah berarti khotbah yang sudah mengajar doktrin secara bertanggungjawab pasti mengakibatkan semua jemaatnya beriman beres?Belum tentu juga, karena perubahan iman, karakter, dan kehidupan jemaat bergantung mutlak pada kuasa Roh Kudus yang menguduskan seseorang. Meskipun tidak semua jemaat tersebut beriman beres, gereja tetap perlu mengajar doktrin, karena Alkitab mengajar hal tersebut (baca lagi: 2Tim. 4:1-2).
Bagi para pengkhotbah sendiri, sebelum mereka berkhotbah di atas mimbar dengan mengajar doktrin, hendaklah mereka menguji apa yang hendak mereka ajarkan, supaya apa yang mereka ajarkan tidak menyesatkan jemaat. Hal ini pun diajarkan Alkitab.Paulus memperingatkan anak rohaninya, Timotius, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu.Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” (1Tim. 4:16)

2.         Khotbah Sebagai Sarana Untuk Menguatkan Iman Orang Kristen
Kedua, khotbah bukan hanya sebagai sarana mengajar doktrin, khotbah juga sebagai sarana untuk menguatkan iman orang Kristen.Artinya, khotbah itu harus menyampaikan berita/pesan Firman Tuhan yang menguatkan iman orang Kristen ketika mereka menghadapi masalah, kesulitan, sakit penyakit, dll. Dengan kata lain, khotbah bukan hanya memenuhi pikiran saja dengan doktrin, tetapi juga berimplikasi di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam Alkitab, Paulus adalah seorang pengkhotbah yang berkhotbah dengan mengajar doktrin iman Kristen yang penting sambil menguatkan iman jemaat Kristen yang dia layani.Kepada jemaat di Roma, Paulus bukan hanya mengajar doktrin (Rm. 1-11), tetapi juga menguatkan iman jemaat Roma, salah satunya nasihat/khotbah agar jemaat Roma saling menguatkan (Rm.15). Hal yang sama juga terjadi pada Timotius sebagai anak rohani Paulus.
Di dalam 2Tim.1:12, Paulus menyampaikan khotbah/nasihatnya kepada Timotius tentang apa yang harus Timotius lakukan ketika berada di dalam penderitaan, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” (2Tim. 1:12) Bagaimana dengan Anda yang melayani sebagai seorang pengkhotbah? Apakah Anda berkhotbah dengan mengandalkan semua bahan akademis yang Anda pelajari di sekolah theologi saja? Ataukah Anda hari ini berkomitmen menyeimbang- kan  antara mengajar doktrin dan menguatkan iman orang Kristen di tengah berbagai pergumulan hidup mereka?

3.         Khotbah Sebagai Sarana Untuk Mendidik Karakter dan Kehidupan Kristen
Selain untuk mengajar doktrin dan menguatkan iman orang Kristen, khotbah juga sebagai sarana untuk mendidik dan membangun karakter dan kehidupan Kristen.Selain iman dibangun dan dikuatkan, orang Kristen juga perlu memiliki karakter dan kehidupan Kristen yang terintegrasi yang memuliakan Tuhan.Untuk itulah, khotbah mimbar seharusnya sebagai sarana mendidik jemaat Tuhan dengan karakter, moral/etika, perkataan, pikiran, dan perbuatan yang memuliakan Tuhan.Artinya, sang pengkhotbah harus memberitakan teguran bagi mereka/jemaat yang hidup tidak beres, misalnya selingkuh, mencuri, dan lain sebagainya. Teguran-teguran seperti itu dimaksudkan agar jemaat tersebut dan jemaat lain memiliki karakter, etika, perkataan, dan perbuatan yang berpusat kepada Kristus dan memuliakan Tuhan. Sebelum menegur jemaat, sang pengkhotbah sendiri harus memiliki ia memiliki karakter, motivasi, moral/etika, perkataan, pikiran, dan perbuatan yang beres terlebih dahulu, sehingga apa yang disampaikannya memiliki kuasa mengubah jemaat.



 
BAB IV
KESIMPULAN

Khotbah yang baik dan bertanggungjawab bukan hanya mengutip puluhan ayat Alkitab, tetapi yang menguraikan ayat Alkitab secara eksposisional (ayat per ayat, pasal per pasal, dll di dalam kitab di Alkitab).Misalnya, menguraikan Injil Matius secara rutin setiap hari Minggu.Jika kita benar-benar menerapkan metode eksposisi Alkitab secara rutin setiap hari Minggu, maka kita baru menyadari bahwa Alkitab kita bukan Alkitab yang dangkal, tetapi dalam. Pdt. Dr. Stephen Tong sendiri mencontohkan bahwa beliau mengeksposisi Surat Roma sudah hampir lebih dari 5 tahun secara rutin, begitu juga dengan Surat Ibrani dan Injil Yohanes. Di sini, kita mengetahui alasan mengapa saya mengatakan waktu dan isi khotbah tidak pernah ditentukan manusia, karena Firman Tuhan ini sangat mendalam dan tidak bisa dijelaskan dengan waktu yang singkat.
Roh Kudus memakai para pengkhotbah di luar khotbah yang telah disiapkannya.Kadang-kadang, Roh Kudus memakai para pengkhotbah untuk memberitakan Firman dengan pengertian yang berbeda di luar khotbah yang telah disiapkan si pengkhotbah.“Berbeda” di sini bukan bertolak belakang, tetapi berbeda dalam pengertian yang lebih tajam, luas, jelas, dan mudah dimengerti.Oleh karena itulah, waktu khotbah bergantung pada kedaulatan Allah di dalam khotbah yang bebas memakai hamba-Nya untuk menyampaikan berita Firman yang urgent. Jika memang Roh Kudus ingin menyampaikan berita Firman secara singkat, maka si pengkhotbah jangan sengaja memanjangkan khotbahnya supaya pas 1 jam. Tetapi jika Roh Kudus ingin menyampaikan berita Firman dengan jelas dan agak lama, maka jangan sengaja memendekkan durasi khotbah sampai menjadi 30 menit.Ia yang menciptakan waktu, Ia berhak memakai waktu yang diciptakan-Nya untuk memberitakan Firman-Nya. Hak apa kita berani membatasi-Nya?
Dengan kata lain, kedua poin ini menuntut suatu kepekaan khusus dari para pengkhotbah yang diurapi Tuhan. Pengkhotbah yang baik selain studi Alkitab yang ketat, juga terbuka pada dinamika pimpinan Roh Kudus ketika mereka berkhotbah. Bagaimana dengan Anda sebagai pengkhotbah?Maukah Anda hari ini sungguh-sungguh memberitakan Firman Tuhan dengan hikmat dan kuasa Roh Kudus demi kemuliaan-Nya?Tuhan menuntut hamba-hamba-Nya memberikan Firman Tuhan dengan bertanggungjawab, murni, teliti, tegas, jelas, dan aplikatif serta memuliakan nama-Nya.Sudahkah Anda melakukannya? Amin. Soli Deo Gloria.


 
DAFTAR PUSTAKA


Corner, Kevin J. and Ken Malmin. Interpreting the Scriptures. Oregon: Bible Temple Publications, 1983.
Dunnet, Walter W, The Interpretation Of Holy Scripture. Thomas Nelson Publishers.
Fee, Gordon and Douglas Stuart, Hermeneutics. Malang: SAAT, 2000.
Greidanus, Sidney. Preaching Christ from The Old Testatement. Bandung: Yayasan Kalam Kudus, 2009.
Hayes, John H and Carl R. Holladay. Pedoman Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005.
LAI. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia,2011.
Sutanto, Hasan. Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. Malang: SAAT, 1986.
Terry, M.S, Biblical Hermeneutics. Michigan: Zondervan Publishing House, 1979.
Waluyo, Joko. Diktat Hermeneutik 1. Surabaya: STTIA, 2011.




[1]Kevin J. Corner and Ken Malmin.Interpreting the Scriptures, Portland, Oregon: Bible Temple Publications, 1983.Hal 19-26.
[2] Hasan Sutanto.Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab, Malang: SAAT, 1986, Hal.6.
[3] Hasan Sutanto.Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab, Malang: SAAT, 1986, Hal 10.
[4] Ibid.
[5] Kevin J. Corner and Ken Malmin.Interpreting the Scriptures, Portland, Oregon: Bible Temple Publications, 1983. Hal 19-26.
[6] M.S. Terry, Biblical Hermeneutics…Hal.5 (Lihat Joko Waluyo, Diktat Hermeneutik 1.Surabaya: 2011, Hal.13-14.
[7] Gembala sidang GBI Rehobot, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar