I LOVE YOU
Rabu, 14 Mei 2014
Senin, 18 November 2013
Menantikan si doi.. (Andreas D. Chrisdiantoro_STTIA Surabaya)
“Menantikan si doi..“
(Andreas Dwi Chrisdiantoro_STTIA Surabaya)
Gak,…gitu maksudnya,..fren ! Baca dulu yah…semuanya ini baru comment..!
Pernah lihat orang yang mau pergi ke pesta dan sedang menanti-nantikan mobil jemputan ? Bagaimana
penampilannya ? Apa penampilannya kusut, acak-acakan, belum mandi atawa
masih ada roll rambut, masih pakai baju tidur, belum pakai sepatu ?
Tentu tidak, bukan ? Nah seperti itulah
seharusnya penampilan atau wujud sosok seseorang yang sedang
menanti-nantikan jawaban Tuhan untuk jodohnya.
Singkat kata, berpenampilan menjadi seorang “Kekasih yang terbaik”. Apa maksudnya menjadi seorang “Kekasih yang Terbaik” ?
Maksudnya menjadi seorang pribadi yang
membuat setiap lawan jenis ingin menjadi kekasihnya dan pasangan hidup
dalam pernikahan. Woow….siapkah anda menjadi cowok atau cewek idaman ?
Paling tidak dalam artikel ini ada 5 hal yang perlu anda lakukan dalam
masa jomblo anda…
1. Adanya semangat mencari pasangan hidup.
Pernah berjumpa dengan seorang yang
memiliki semangat mencari pasangan hidup ? Hiiihh.. Biasanya pria atau
wanita yang benar akan mundur teratur kalau berjumpa dengan pria atau
wanita yang seperti ini. Mengapa ?
Karena selalu yang menjadi fokus
hidupnya hanya satu, yaitu mencari jodoh. Semua sapaan dan perbuatan
baiknya selalu “ada udang di balik batu”. Pribadi model gini akan bikin
gerah karena dia tidak risih untuk meng-halal-kan segala cara asalkan
bisa melakukan “PeDeKaTe” pada pria atau wanita yang masuk dalam daftar
incarannya. Ooo…ogah deh punya teman seperti ini, bukan ?
Tapi yang dapat menjadikan anda pria
atau wanita single yang mempesona kalau kamu punya SEMANGAT HIDUP.
Tidak loyo seperti tanaman kurang air, karena terus menerus meratapi
nasib yang sudah jatuh tempo tapi belum dapat jodoh.
Kenapa kita bisa kehilangan SEMANGAT HIDUP ?
Karena kita salah memandang hidup kita. Cara pandang istilah kerennya adalah perspektif.
Kalau perspektif kita terhadap hidup
adalah hopeless, kartu mati, old crack, lumutan, dlsb ; tentulah kita
tidak bakalan punya SEMANGAT HIDUP.
Asal tahu saja, bahwa hidup kamu tidak
“semurah” itu,…harga hidupmu adalah senilai YESUS, karena dengan saat di
kayu salib Yesus menukarkan hidupNYA sendiri dengan hidup kamu. Jadi
gak mungkin,..hidupmu sekarang jadi hopeless, kartu mati, old crack,
lumutan, dlsb.
Caranya untuk bisa tahu seperti apa
perspektif Allah buat hidup kamu, tidak lain dengan BERTANYA KEPADA
TUHAN dalam doa dan dialogmu dengan Tuhan ( bagaimana cara berdialog
dengan Tuhan,…wah yang ini harus berlatih dan diberi tuntunan secara
rutin, dan hanya bisa melalui proses pemuridan, makanya cepat gabung ke
komsel dan minta dimuridkan one on one..! ).
Selain bertanya kepada TUHAN, buatlah 3
buah daftar: (1) Daftar hal-hal yang sudah kamu lakukan, (2) Daftar
hal-hal yang mudah kamu lakukan, (3) Daftar hal-hal yang menarik buat
kamu tapi selama ini rasanya mustahil untuk dilakukan.
Setelah itu bawalah ketiga daftar ini ke
Tuhan dalam doa, minta Roh Kudus memperlihatkan manakah dari daftar
yang kamu buat ini merupakan suatu hal yang seharusnya kamu lakukan saat
ini.
Kalau kamu sudah dapatkan hal tersebut,
percayalah bahwa itu adalah Kehendak Tuhan bagi hidupmu dan IA pasti
akan memberikan kemampuan bagimu untuk dapat melakukannya. Maka setelah
itu SEMANGAT HIDUP akan mulai berkobar dalam hidupmu dan kamu akan mulai
menjadi pria atau wanita yang mempesona.
2. Adanya kehangatan ( bukan hangat-hangat “tahi” ayam )
Maksud dari
pepatah hangat-hangat “tahi” ayam biasanya diartikan orang hanya
semangat (hangat) sebentar saja habis itu biasa-biasa saja. Tapi
menurut saya, bisa berarti setelah hangatnya hilang, yang muncul adalah
“tahi”-nya alias hal-hal yang menjengkelkan dan mengesalkan. Bukankah
begitu kalau kita berjumpa dengan orang yang suka basa basi ? Hanya
menarik di pembukaannya saja.
Kehangatan bisa dibangun dalam diri kita paling tidak kalau kita berlatih 3 hal ini:
* Berlatih bersikap ramah ( bukan “RAjin menjaMAH” )
Mengucapkan
salam “Selamat Pagi” atau “Selamat Siang” dengan ditambah menyebutkan
nama orang yang dijumpai adalah hal sepele yang kalau terus dilatih akan
membentuk kamu menjadi pribadi yang ramah dan hangat.
* Berlatih memiliki empati
Copot
“kacamata kuda” yang membuat kamu hanya melihat apa yang mau kamu
kerjakan. Lihat dan miliki rasa ingin tahu perasaan dan kebutuhan dari
orang-orang yang kamu jumpai dengan tujuan untuk menghibur atau
memberikan pujian. Hati-hati terjebak dengan kebiasaan “ngerumpi”
(nge-gosip), karena kalau kebiasaan buruk ini tidak pernah punya tujuan
untuk menghibur yang menderita atau memberikan pujian yang sedang
berhasil.
* Berlatih saling berbagi
Sebelum
berlatih di bagian yang terakhir ini, biasakanlah diri untuk BERDIALOG
DENGAN TUHAN untuk bertanya apa yang harus kamu lakukan dengan keadaan
orang yang kamu jumpai (supaya kamu jangan tertipu atau justru
mengontrol orang tersebut).
Orang yang hangat tentu dengan sendirinya membuat orang lain betah bersahabat dengannya.
3. Tidak adanya tolok ukur atau pembanding.
Turunkan dan buanglah semua kriteria-kriteria wanita atau pria yang ideal yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.
Kalau kamu masih pakai tolok ukur kamu
untuk wanita atau pria yang ideal, itu namanya bukan MENANTI-NANTIKAN
JODOH DARI TUHAN, tapi MENCARI-CARI JODOH DARI TUHAN. Kita tidak
bakalan bisa mencari jodoh dari Tuhan karena sebenarnya kita tidak tahu
apa yang sebenarnya diri kita butuhkan.
4. Adanya pengenalan akan Tuhan yang mempesona.
Kalau kamu rindu mendapatkan jodoh yang
bisa membentuk keluarga yang dikehendaki Tuhan dalam hidupmu, maka
tentunya kamu membutuhkan jodoh yang juga memiliki kerinduan yang sama.
Bagaimana caranya jodoh kamu bisa menemukan dirimu sebagai pribadi yang
sepadan dengan dirinya ?
Jadilah pribadi yang memiliki
pertumbuhan rohani yang sehat. Tubuh yang sehat kalau makan makanan
yang sehat dan beraktifitas yang sehat secara teratur.
Tubuh rohani yang sehat membutuhkan
makan makanan rohani yang sehat ( SaTe, 4M ) dan beraktifitas rohani
yang sehat ( tertanam dalam komsel dan ambil tanggung jawab melayani di
jemaat) secara teratur ( gak bolong…bolong..).
5. Adanya kewajaran dalam berpenampilan.
Tidak ada orang yang mengharapkan wanita
berusia 35 tahun kelihatan seperti remaja 18 tahun, begitu juga sedikit
wanita akan tertarik kepada pria berusia 52 tahun yang berusaha untuk
kelihatan atau bertingkah seperti baru berusia 25 tahun.
Yang paling baik adalah berusaha untuk kelihatan yang terbaik pada usia berapapun. Penampilan yang menarik adalah kalau kita selalu berusaha mencari buah Roh dalam hidup kita.
“Tapi kalau aku sudah capek-capek berusaha jadi KEKASIH YANG TERBAIK
ternyata
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23
Kalau kita lakukan semuanya adalah untuk TUHAN dan bukan untuk dapat
Jodoh (tujuan hidup Cari Jodoh), kita tidak akan pernah merasa rugi.
Karena kita lakukan itu untuk menjadi kekasih kita, YESUS KRISTUS
TUHAN.
Maukah kamu nanti di akhir hidupmu saat berjumpa denganNYA, mendengar IA berkata:
“…Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia;
engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu
tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam
kebahagiaan tuanmu.” Matius 25:21
Senin, 13 Mei 2013
Sabtu, 27 April 2013
Kasih
MAJU TERUS UNTUK MENGASIHI
Saat
berinteraksi dengan orang lain dalam keseharian, sepertinya ada aja
orang yang bisa menguji kesabaran, bikin kesel, gregetan, atau apapun,
Ini terjadi karena hal-hal kecil seperti beda pendapat atau memang
saya yang sedang sensitif, entahlah. Yang jelas, suatu saat Tuhan
bicara secara khusus ke saya, untuk saya gak berhenti, alias terus
maju dalam hal mengasihi. Ini ceritanya.
Waktu itu saya sedang kesel dan emosi sendiri ke satu
orang yang memang punya hubungan dekat dengan saya. Menurut saya,
dia sangat keras kepala atau bahkan cenderung bebal. Dan mengadulah
saya pada Tuhan.
“Tuhan… Aku bukannya gak mau kasih tau dia lagi, cuma orang Tuhan tau sendiri kan, dia orangnya gak bisa dibilangin, gak mau dengerin, kepala batu.. Aku udah gak tau lagi musti gimana, ngomong udah pake cara halus sampe yang to the point tetep dia gak ngerti juga, jadi ya udah lah terserah dia aja mau ngapain. Mau jungkir balik atau ngapain, terserah, toh dia sendiri yang kena akibatnya.. Aku gak mau lagi lah urusin dia… Capek…”
“Tuhan… Aku bukannya gak mau kasih tau dia lagi, cuma orang Tuhan tau sendiri kan, dia orangnya gak bisa dibilangin, gak mau dengerin, kepala batu.. Aku udah gak tau lagi musti gimana, ngomong udah pake cara halus sampe yang to the point tetep dia gak ngerti juga, jadi ya udah lah terserah dia aja mau ngapain. Mau jungkir balik atau ngapain, terserah, toh dia sendiri yang kena akibatnya.. Aku gak mau lagi lah urusin dia… Capek…”
Rasanya menyebalkan, memberi saran untuk kebaikan dia sendiri, tapi
tidak didengar. Saya tahu, memang saya tidak boleh mengurusi dia terlalu
berlebihan dengan hidupnya, karena dia punya kebebasan sendiri
tentang hidupnya. Masalahnya, hati saya yang tidak beres muncul dalam
bentuk sikap saya yang emosi sendiri dan membuat saya jadi tidak mau
‘peduli’ lagi. Dari mana saya tahu bahwa hati saya gak beres? Ini
jawaban Tuhan yang bikin saya paham.
“Kalo Aku juga bersikap cuek seperti itu sama kamu, gimana?”
Langsung, saya terdiam dan mikirrrrrrr……. Saya jadi merenungkan pertanyaan Tuhan ini. Iya ya, gimana jadinya kalo Tuhan juga cuek sama saya? Gimana jadinya kalo waktu saya tidak mau nurut dan bandel melanggar FirmanNya, Tuhan udah males mengurusi saya lagi? Gimana jadinya kalo di saat saya menderita karena salah saya sendiri, Tuhan justru bilang “Sukurin, kena sendiri kan akibatnya…”?
“Kalo Aku juga bersikap cuek seperti itu sama kamu, gimana?”
Langsung, saya terdiam dan mikirrrrrrr……. Saya jadi merenungkan pertanyaan Tuhan ini. Iya ya, gimana jadinya kalo Tuhan juga cuek sama saya? Gimana jadinya kalo waktu saya tidak mau nurut dan bandel melanggar FirmanNya, Tuhan udah males mengurusi saya lagi? Gimana jadinya kalo di saat saya menderita karena salah saya sendiri, Tuhan justru bilang “Sukurin, kena sendiri kan akibatnya…”?
Kalau Tuhan bersikap seperti saya yang tidak mau
peduli lagi, masa bodoh, cuek, lalu berhenti mengasihi manusia,
pastinya gak akan ada keselamatan untuk manusia. Tidak ada
keselamatan, tidak ada hidup yang baru, tidak ada kita seperti
keadaan hari ini. Ketika saya merenungkan tentang bagaimana Tuhan
mengasihi saya, saya jadi belajar bahwa Tuhan itu:
1. Tuhan berinisiatif duluan
Sekalipun manusia sudah jatuh dalam dosa akibat pilihannya sendiri,
contohnya saya, saya berkali-kali mengecewakan Tuhan, tapi Tuhan
menyediakan rencana penyelamatan lewat kematian Kristus di kayu
salib. Dia berinisiatif untuk mengasihi kita terlebih dahulu,
walaupun kita belum mengerti tentang keselamatan itu, kita belum
punya pemikiran untuk mau menerima atau menolak keselamatan itu.
Pokoknya, gak peduli kayak apapun keadaan kita, Tuhan berikan
kasihNya yang terbesar itu untuk saya dan semua orang. Lewat perenungan ini, Tuhan mengingatkan saya untuk berinisiatif duluan memberikan kasih buat orang lain. Tuhan mau untuk saya bukan menunggu seseorang punya sikap yang baik dulu, baru saya mau menunjukan kasih. Bukan menunggu orang itu taat dulu baru saya mau peduli sama dia. Tuhan mau saya maju duluan, mengasihi dia tanpa peduli keadaannya.
2. Tuhan tidak pernah berhenti untuk memberi kasih terus menerus
Kalau saya ingat apa yang Tuhan lakukan dalam hidup saya, sama kagum
banget dengan kasihNya yang gak pernah berhenti. Saya yang memang
manusia berdosa yang layak dihukum, justru Tuhan ampuni dan beri
penebusan di kayu salib . Saya yang tidak taat, bandel dengan
dosa-dosa saya, Tuhan tetap sabar untuk ajar dan tuntun pada
kebenaran, sampai saya mengerti dan melakukannya. Kasih Tuhan yang gak
pernah berhenti ini membuat saya melihat bahwa ketika saya mengalami
kejatuhan, Tuhan selalu percaya bahwa saya bisa bangkit lagi.Tuhan sudah memberikan KasihNya yang luar biasa buat hidup saya, kasih yang sempurna. Terlalu egois jika saya tidak mau memberikan kasih itu untuk orang lain. Tuhan mau saya bisa memberikan kasih yang sama kepada orang-orang yang saya temui sehari-hari, karena Dia sudah memberikan contoh bagaimana mengasihi. Tuhan mau saya belajar untuk maju terus dalam hal mengasihi. Gak berhenti mengasihi walau situasi atau orang itu mengecewakan hati saya.
Mungkin timbul perkataan di hati kita: kasih Tuhan
itu sempurna, karena Dia Tuhan, sedangkan kita cuma manusia biasa
yang kasihnya gak sempurna. Tapi bagi saya, yang terpenting adalah
kita mau belajar mengasihi seperti Allah mengasihi kita. Maju duluan
untuk mengambil inisiatif mengasihi dalam tindakan-tindakan yang
nyata, lalu maju terus alias tidak berhenti mengasihi walau situasi atau
orangnya bikin kita ingin menyerah. Allah adalah kasih, jika kita
mengaku sebagai anakNya, tentu seharusnya kasih Allah ini sudah
menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.
Belum dapat jodoh??
Belum Dapat Jodoh??
“Kenapa yah…tahun 2012 sudah habis separoh. aku belum dapat jodoh??”
“Soalnya…kamu kurang menarik!!!” “Jadi….seharusnya aku menarik seperti apa?????!!!”
(buat cowoq) (buat ceweq)
“Kamu kurang MACHO..” “Kamu kurang SEXY..”
“Kamu kurang ROMANTIS…” “Kamu kurang GIRLY..”
“Kamu GAP-TEK sich..” “Kamu KAMPUNGAN sich..”
STOP!!!
Tunggu sebentar! Coba pikirkan sebentar…
Kalau kamu jadi cowoq yang MACHO-ROMANTIS-HIGHTECH, kira-kira ceweq model gimana yang akan nempel sama kamu? Yang utamakan penampilan (body), yang selalu cari perhatian (vacuum), yang gambar dirinya gak beres (jadi butuh dapet cowoq yang bisa naikkan prestisenya – punya cowoq yang HIGHTECH)
Kalau kamu jadi cowoq yang MACHO-ROMANTIS-HIGHTECH, kira-kira ceweq model gimana yang akan nempel sama kamu? Yang utamakan penampilan (body), yang selalu cari perhatian (vacuum), yang gambar dirinya gak beres (jadi butuh dapet cowoq yang bisa naikkan prestisenya – punya cowoq yang HIGHTECH)
Kalau kamu jadi ceweq yang
SEXY-GIRLY-METROPOLIS, kira-kira cowoq model gimana yang akan berjuang
dapetin kamu? Yang cari “simbol keberhasilan” (karena dianggap dah
hebat bisa dapetin ceweq yang bikin banyak mata cowoq “ngiler”) buat
dirinya, yang hobinya memuaskan mata dan nafsunya sebagai “pejantan”
(maaf…gak pakai istilah pria karena yang dimaksud nafsu kebinatangannya
gen pria).
Iiiih….siapa yang mau dapet pasangan model gitu!
Aku maunya dapat
pasangan yang takut TUHAN (Kristen lahir baru), yang rohaninya bertumbuh
“gak mandeg”, yang bisa menghargai aku dan nyambung komunikasinya.
Kalau gitu,..kita lihat satu-satu di bawah ini, pria dan wanita
seperti apa sich yang dicari oleh pasangan yang kamu idam-idamkan itu.
Pria idaman wanita menurut Alkitab
Satu-satunya pria yang paling banyak
diceritakan di Alkitab, sebagai pria yang dikagumi banyak wanita adalah
Yesus. Bahkan kitab Lukas (pasal 23 dan 24) mencatat bahwa orang-orang
yang masih merawat jasad Tuhan Yesus setelah disalibkan adalah para
wanita. Berarti pribadi Yesus mendapat tempat yang khusus di dalam hati
para wanita. Bukan hanya karena IA adalah Tuhan tapi Yesus adalah PRIA
SEJATI.
Salah satu karakter PRIA SEJATI yang
ditunjukkan Yesus, saat ia mengampuni seorang wanita yang hampir dirajam
karena ditangkap oleh orang-orang Farisi karena termasuk wanita
pelacur. Yesus memiliki kasih yang percaya bahwa setiap orang dapat
bertobat dari hidup dosanya (I Kor 13:7), jadi tidak merasa diri paling
benar seperti sifat pria pada umumnya. Apa yang dilakukan Yesus ini yang
membuat wanita ini menjadi kagum, bahkan ia rela mengurapi kaki Yesus
dengan minyak yang mahal dan dengan rambutnya. Suatu bentuk dedikasi
kagum dan hormat seorang wanita yang dicari-cari pria.
Jadi kalau kamu adalah PRIA jadilah
seperti Kristus karena tepat seperti perkataan alm. Edwin Louis Cole
“Manhood and Christlikeness are synonymous.” (Kepriaan dan keserupaan
dengan Kristus adalah sama). Belajarlah hidup hari demi hari bersama
Yesus di dalam hati sehingga karakterNYA semakin nyata saat kamu
berhubungan dengan saudaramu yang wanita di komunitasmu.
Wanita idaman Pria Menurut Alkitab
Abigail adalah salah satu tokoh wanita
yang secara gamblang diceritakan dalam alkitab bahwa ia dapat memikat
seorang pria yang hidup dalam kebenaran, yaitu Daud bukan karena
penampilannya yang menarik, tapi karakter yang dimilikinya.
Saat Daud dan pasukannya hendak
mendatangi Nabal (suami Abigail) untuk membunuhnya karena ucapan dan
sikapnya yang angkuh, di saat “panas” seperti inilah Abigail muncul
dengan karakternya yang bijak. Perhatikan apa yang dikatakannya kepada
Daud yang sedang emosi: “Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal,
orang yang dursila itu, …Oleh sebab itu, tuanku, demi TUHAN yang hidup
dan demi hidupmu yang dicegah TUHAN dari pada melakukan hutang darah dan
dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan, …” (I Sam
25:25-26).
Perkataan Abigail ini langsung
menyadarkan Daud, dan ini yang dikatakannya: “Terpujilah TUHAN, Allah
Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; terpujilah
kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini
menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak
sendiri dalam mencari keadilan. Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang
hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu--jika engkau
tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang
laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing." (I Sam
25:32-34).
Jadi bagi seorang pria yang hidup dalam
kebenaran, keberadaan seorang wanita yang dapat menolong dirinya supaya
tidak berbuat dosa dan tetap hidup dalam kebenaran adalah karakter
seorang wanita yang diidam-idamkannya.
Artinya kalau kamu adalah seorang wanita
yang merindukan pasangan seorang pria yang hidup dalam kebenaran
firman, kembangkanlah karakter sebagai penolong bagi saudara-saudaramu
para pria di komunitas untuk mereka dapat hidup serupa dengan Kristus.
Apa sih yang membuat cewek bisa tertarik sama cowok?
Apa sih yang membuat cewek bisa tertarik sama cowok?
Yailaaah, masih muda, ganteng, karier bagus duit kenceng kok pilihnya ‘daun tua’ sih? Dah gitu ‘big size’ pula… padahal kan banyak cewek cakep yang masih muda yang mau sama dia ..
Bused deh tuh cewek liat apaan yah, tampang cowoknya awut-awutan, naek vespa butut pula. Kok mau yah sama tu cowok?
Aneh binti ajaib emang kalo ada orang
yang {akhirnya} memilih pasangan tidak dengan ‘standar kacamata dunia’
yang bilang PENAMPILAN dan MATERI nomor satu {tampang, bodi dan duit dan
embel-embelnya} tapi tentu ADA dooong! Iya gak? Trutama anak-anak Tuhan
pasti gak mau ‘kecele’ sama yang kayak gitu-gituan, ya kan?
So apa
sih sebenernya yang dicari cewek/cowok dalam diri lawan jenis untuk
dijadikan pasangannya? Sebenernya ini bisa jadi list yang super panjang
yang ude pasti GAK ADA seorangpun bisa penuhin SEMUA hal itu. Face it
lah, gak ada Mr. Perfect-Godly-Guy di dunia ini, gitu juga gak ada Miss
Perfect kayak di amsal 31. Tapi setidaknya saya {mencoba} merangkum 3
hal yang secara general wanita-wanita ‘dambakan’ dari seorang pria, are
you ready to know guys?
Yang didambakan seorang wanita pada umumnya dari seorang pria :
1. Kepemimpinan {willing to lead and serve}
>> willing to lead
Wanita mendambakan kepemimpinan dari
seorang pria {pasti cewek-cewek pada teriak histeris: AMEEEEN!!!}. Mo
yang tipikalnya cewek stabil ampe yang koleris sekalipun pasti pengennya
punya pasangan yang BISA MIMPIN. Kagak usahlah ngomong skala yang
guede-guede kayak mimpin perusahaan or gereja, kalo kami lihat pria yang
bisa MIMPIN DIRI SENDIRI sudah cukup kok :) Mimpin diri sendiri
berbicara tentang disiplin hidup pribadi. Kami suka loh diam-diam
mengamati, Pria ini gimana hubungannya sama Tuhan? Mau taat sama Firman
gak? Saat teduhnya bolong-bolong gak? Prioritas hidupnya gimana? Punya
tujuan hidup atau hal yang jelas buat dicapai gak? Gaya hidupnya gimana,
suka males-malesan or berkhayal doang ato bahkan extreme yang satu lagi
gila kerja sampe gak punya waktu buat maintenance hubungan? Kalo kami
lihat seorang pria bisa ‘mimpin dirinya sendiri’ dengan baik, pasti kami
merasa ‘lebih aman’ untuk mempercayai diri kami tunduk di bawah
kepemimpinan pria tersebut {khususnya nanti pas jadi pasangan dan ketika
jadi suami}.
>> willing to serve
Esensi kepemimpinannya Tuhan Yesus
adalah memimpin lewat melayani bukan ‘bossy-bossy’ {nyuruh-nyuruh
doang}. “Tidaklah demikian di antara kamu . . Barangsiapa ingin menjadi
besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” ( Matius 20:26-27 )
Pria yang kami dambakan adalah pria yang MAU MELAYANI oranglain.
Melayani artinya simple: mau do something for other people {bukannya mau
other people do something for him} dan mau meringankan beban orang lain
(gal 6: 2). Pria kayak gini nih, gak bakalan gengsian buat bantuin
istri doing house-chores {kerjaan-kerjaan rumah kayak nyapu or nyuci
piring or yang laennya} karena emang hatinya mau menolong, meringankan
beban istrinya. Duh nulis kayak gini jadi inget suami sendiri, hihihi…
so blessed to have a husband like him yang suka bantuin saya dengan
kerjaan-kerjaan rumah.
2. Berfungsi dan Bertanggung jawab {willing to take initiative and work hard}
>> willing to take inisiative
Fungsi atau peranan pria dalam sebuah
hubungan adalah sebagai ‘INISIATOR’ dan wanita sebagai ‘RESPONDER’. Itu
kodrat alami! Tapi karena fall into sins, pria banyak yang gak
berfungsi sebagaimana dia diciptakan, malahan jadi pasif sif sif,
terkurung dalam penjara ketakutan dan kemalasan. Gak heran banyak muncul
wanita-wanita yang agresive, banyak ambil peranan dalam pelayanan,
pekerjaan or kepemimpinan. Padahal jauh dalam sanubari hati kami {cie
ileeeeh} kami seneng loh liat pria2 yang inisiatif. Contoh simplenya,
inisiatif dalam hal menawarkan/ memberi bantuan. Kalo ngebantu setelah
terlebih dulu dimintai tolong mah itu namanya bukan inisiatif kan yah?
;p Inisiatifnya bukan karena ada udang di balik batu cuma sama
orang-orang tertentu tapi itu jadi buah karakter yang tetap yang menjadi
berkat buat banyak orang. Inisiatif juga berbicara tentang bagaimana si
pria memberi diri untuk ambil tanggungjawab, brusaha memulai hubungan,
mencari topic pembicaraan, memberi idea bukan menjadi Mister ‘up to you’
yang sukanya ngomong terserah-terserah aja.
- Ce : Mau makan dimana’ mas?
- Co : hmm, dimana yah? Terserah eneng aja deh..*sambil mesem-mesem tak jelas*
- Ce : Mo ngapain nih abis ini?
- Co : ngapain yah? Kamu maunya ngapain? Aku mah terserah aja deh
- Ce : Menurut abang bajunya bagusan yang mana? Ini atau yang itu?
- Co : hmm, abang mah terserah kamu. Kamu sukanya yang mana?
- Yaaaaaaaaaaaaaah… gubraks deh klo ketemu model beginian >.<
>> willing to work hard
“ Tangan yang lamban membuat miskin,
tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya” (ams 10:4). Kalo liat cowok
rajin duh rasanya seneng deh tapi kalo liat cowok yang omdo (omong-omong
doang) dan malas rasanya bisa illfeel deh! Gimana bisa trust our
future sama cowok yang model begitu? Kami tidak menuntut kudu harus
kaya, punya tabungan bermilyar-milyar, punya rumah, mobil dan kapal
pesiar buat {layak} ngelamar jadi pacar kami, asal kami lihat pria
tersebut punya pekerjaan dan mau bekerja keras itu sudah cukup karena
kami tau pria tersebut tidak akan membiarkan kami ‘kelaparan’. “Dalam
tiap jerih payah( baca : kerja keras) ada keuntungan, tetapi kata-kata
belaka (= omdo) mendatangkan kekurangan saja.” (ams 14: 23)
3. Kerendahan Hati {willing to admit mistakes/sins, ask for forgiveness and forgive others}
>> willing to admit mistakes/ sins and asking forgiveness
Wanita mendambakan pria yang HUMBLE
alias gak gengsian. Cukup rendah hati buat ngakuin kesalahan dan minta
maaf bukannya brusaha nutup-nutupin kesalahan dengan banyak dalih.
“Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa
mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” (ams 28:13) Kami tau
tidak ada pria yang sempurna (karena kamipun bukan wanita sempurna)
tapi at least ketika menyadari telah melakukan kesalahan {khususnya
yang menyakiti oranglain} berani dan mau take effort untuk memulihkan
hubungan dan mengusahakan perdamaian.
>> willing to forgive others
Humility juga artinya bersedia buat
maafin kesalahan oranglain. Ngeri rasanya kalo liat pria yang
terus-menerus menyimpan amarah, kekecewaan, luka, kebencian dan
kepahitan di dalam hatinya. “Akal budi membuat seseorang panjang sabar
dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran” ( Ams 19: 11 ) Pria
yang bisa mengampuni adalah pria yang lembut hatinya seperti Yesus dan
pria seperti ini yang akan gain more respect from others!
Yang bisa bikin hati Cowo ‘bertekuk lutut’ sama cewek? (Andreas D Chrisdiantoro_STTIA Surabaya)
Yang bisa bikin hati Cowo ‘bertekuk lutut’ sama cewek?
Nah yang lalu kan yang didambakan oleh wanita, kalo yang didambakan
pria-pria pada umumnya tuh apa sih? Tentu saja bagian yang ini saya
tidak bisa menulisnya tanpa menjadikan suami dan beberapa teman pria
kami sebagai narasumber.
Saya mengadakan survey ke sekelompok pria (termasuk suami saya). Ada
yang single, ada yang sudah menikah, ada yang businessman tapi ada juga
yang fulltimer, ada yang menikah dengan wanita yang lebih tua tapi ada
juga dengan yang jauh lebih muda. Meskipun mereka berbeda temperamen dan
latar belakang, ada 1 hal yang sangat menarik, kebanyakan pria
menyebutkan 3 point yang kurang lebih sama tentang apa yang mereka
dambakan dari lawan jenis. Oke, are you ready to know, ladies?
Yang didambakan seorang pria pada umumnya dari seorang wanita:
1.Positive Attitude
Mau cantik tapi kalo kayak mayat (tanpa ekspresi), dingin.. apalagi
cemberutan, ga banget dahh.Gw suka liat wanita yang sering senyum (bukan
gila yo, senyum-senyum sendiri hehehe). Itu jelas menambah kecantikan
dari seorang wanita.
“Percuma kalo cakep {baca: menarik secara fisik} tapi kelakuannya
minus (jutek, somse, galak, dikit-dikit complain, controlling, etc)!”
Yup bener, Men are highly attracted to smiles, bukan senyum yang
TePe-TePe loh ya, tapi senyum yang lahir dari hati yang bersukacita.
“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri” (ams 15:13) nah ini nih
kecantikan sejati yang bisa menawan hati. So jangan spend so much money
buat beli make up muahal-muahal karena the BEST MAKE UP any girl can
wear is her smile! Pernah lihatkan ada cewek-cewek yang biasa aja
‘tampangnya’ tapi buanyaaaaaaaak banget yang mau temenan dan juga
‘deketin’ dia? Itu pasti karena mereka ngrasa ada ‘something different’
yang bikin mereka nyaman temenan or ada di sekeliling dia.’Something
different’nya itu namanya ‘POSITIVE ATTITUDE’!
>> willing to accept unexpected conditions and not complain
Pernah punya temen yang dapet julukan’ miss complainer’, yang
dikit-dikit gak puas, bersungut-sungut, marah-marah. Gimana rasanya?
Capek gak dengerin ‘ocehannya’? Pasti capek! Gitu juga pria suka ‘gerah’
sama cewek yang cerewet uwet-uwet suka complain ini ono. Yuk kita
sama-sama belajar ketika terjadi hal-hal yang diluar ekspetasi
(=pengharapan dan keinginan ) kita, gak langsung ‘berkicau’ tapi mau
untuk menerima dan gak bersungut-sungut dan juga cepet ngambek, hehehe..
“Do everything without grumbling or arguing, so that you may become
blameless and pure, children of God without fault in a warped and
crooked generation.Then you will shine among them like stars in the sky”
(Phil 2:14-15) Tuh, kalo mo ‘bersinar’ kudu lakuin apa yang Firman
Tuhan bilang, “jangan bersungut-sungut alias suka ngambek en complain”.
Dunia ini uda penuh dengan orang yang suka complain jadi kalo kita
‘tampil beda’, wuuiiih sinarnya bakal begitu SILAU mennn! Pria
mendambakan wanita yang mau mengontrol lidahnya buat kagak
bersungut-sungut. Raja Salomo aja bilang gini “ mendingan gue tinggal di
atap rumah deh daripada dengerin ocehan istri yang suka berantem/ gak
content “ (ams 21: 9/ terjemahan bebas)
Ps. Ini bukan berarti sebagai
cewek, kita kudu terima aja (alias mingkem) kalo ada perlakuan yang
tidak adil or gak benar. Tapi ketika kita sudah berusaha
‘memperjuangkan’ untuk memperoleh hak kita tapi kita {pada akhirnya} gak
mendapatkan hal tersebut, kita gak membiarkan sukacita tercuri dari
hati kita dengan jadi ngambek en uring-uringan gak jelas marah ke orang
lain yang gak ada sangkut pautnya. Willing to accept, mau untuk
‘menyerahkan’ hak.
>> willing to be thankful in any circumtances
“ in everything give thanks“ (1 Thes 5:18) Gampang aja buat ngucap
syukur pas lagi bisa makan Abuba Steak and nyerumput Peppermint Mocha
Frappucino-nya Starbucks tapi gimana kalo cuma diajak makan pecel lele
en es teh manis di emperan jalan? Wanita yang penuh dengan ucapan syukur
mentransferkan atmosfir positif dan juga sukacita buat orang-orang di
sekelilingnya. Itu yang buat orang-orang betah deket-deket.
2. Submissive Spirit
>> willing to submit to authority
Submit to authority artinya memberi diri untuk dipimpin, mau tunduk
dan mau taat. Submissive spirit bukan berarti setuju sama semua yang
otoritas bilang or suruh. Bisa aja ada ketidaksetujuan dan beda
pendapat. Tapi wanita yang punya submissive spirit pasti bisa telling
her disagreement tetep dengan respect bukan dengan pemberontakan.
Pria(=suami) diciptakan Tuhan sebagai KEPALA dan istri should submit to
husband in everything (ef 5:24) supaya bisa submit in everything
nantinya, wanita harus blajar untuk submit sama otoritas yang diberikan
Tuhan semasa singlenya (orangtua, mentor, bos, etc)
>> willing to respect
Pria mendambakan wanita yang bisa dipercaya, wanita yang ketika tau
kelemahannya tidak bertindak sebagai ‘hakim’ ataupun ‘penyiar
radio’(cerita ke sini sono) tapi bisa tetep respect dan menolong pria
tersebut untuk mengatasi kelemahan, mendukung dalam doa, memberi waktu
untuk bertumbuh dan juga pengampunan.
3. Teacheable Heart
>> willing to learn and be flexible
Pria suka wanita yang rajin untuk terus-menerus belajar. Biasanya
{sebelum menikah} pria gak terlalu perduli apakah wanita tersebut bisa
masak atau kagak, bisa ngurus rumah apa kagak or terbiasa ngurus anak
kecil atau kagak sekalipun mereka pengen juga sih punya ‘calon istri’
yang keibuan. Tapi yang paling penting buat pria adalah asal si wanita
MAU BELAJAR pasti dia akan bisa lakuin hal-hal yang tadinya dia gak
bisa.
Waktu dulu pertama kali saya ke amerika dan discover the life of
Mennonite women, saya terkaget-kaget karena mereka tuh luar biasa
banget! Cewek-ceweknya skillful urusan rumah tangga dari cooking-baking,
ngejahit, dekorasi rumah, hospitality, ngurus anak, gardening, bisa
semua, gak pake pembantu lagi meskipun anak lebih dari satu!
Plok..plok..plok! Bahkan adik ipar saya yang {waktu itu} berumur 9 tahun
aja sudah bisa bikin berbagai macam dessert. Kalo saya? Boro-boro! Then
saya jadi ‘jiper’ en bertanya-tanya kenapa suami saya pilih saya, yang
masak tempe orek aja bisa keras kayak batu ;p Simple dia bilang karena
dia lihat ada beberapa hal yang dia sukai dalam diri saya, salah satunya
adalah saya punya hati yang mau belajar.
Percayalah girls, setelah kamu menikah, ADA BUANYAK HAL yang tadinya
belum sempet/pernah kita alamin yang harus kita pelajari. Contohnya :
urusan memasak, dulu saya bisa mengandalkan mama saya tapi pas menikah,
tinggal di luar negri, kangen sama masakan indo.. yah kudu belajar masak
sendiri, belum lagi belajar masak makanan kesukaan suami. Trus nanti
pas hamil, kita harus belajar juga gimana buat menjaga kesehatan
kehamilan kita dan bagaimana supaya bisa lahiran normal, trus kalo
babynya sudah lahir, kita harus belajar pula gimana cara menyusui dengan
benar, trus kudu belajar gimana bikin homemade baby food, menstimulasi
anak lewat kegiatan/aktivitas supaya pertumbuhan dan perkembangan anak
menjadi optimal, belajar time management, etc.. So teman-teman, ayo
terus punya hati untuk mau belajar. Zaman sekarang mah mau blajar apa
aja gampang, di youtube banyak tutorial, mau nyari resep masakan or
informasi apapun juga tinggal tanya Mr. google, it is so simple!
>> willing to be corrected and change
Teacheable heart juga berbicara tentang kesediaan untuk ditegur dan
berubah. Pria-pria mendambakan wanita yang ‘gak cepet sensi’ kalo
ditegur kesalahannya atau dievaluasi karakternya. Bukan begitu
pria-pria? ;p
Yang paling penting ketika kamu mencari pasangan hidup adalah
PASTIKAN bahwa ia sudah LAHIR BARU dan cinta Tuhan sungguh-sungguh.
Orang yang sudah ‘lahir baru’ punya potensi untuk bertumbuh menjadi
seperti Kristus dan orang yang mencintai Tuhan akan punya gaya hidup
takut akan Tuhan (membenci dosa dan mau taat sama Firman).
At the end, saya cuma mau encourage
buat semua {termasuk saya} untuk bukan cuma berusaha jadi wanita/pria
yang ‘didambakan’ oleh lawan jenis tapi berusahalah menjadi dambaan
Pengantin agung kita karena kita semua adalah ‘mempelai Kristus’. Kalo
tujuan kita adalah mempersembahkan yang terbaik dari setiap bagian hidup
kita untuk menjadi mempelaiNya yang berkenan, pastilah kita juga akan
bisa jadi pasangan yang terbaik. :)
Apakah boleh BER-PACAR-AN ?
Apakah boleh BER-PACAR-AN ?
Kalau Gitu kenapa tidak boleh punya pacar ? Bukankah Cinta Kasih itu baik ?
Selama Kasih itu dari Cinta yang BENAR tentu baik hubungan pacaran yang dibangun. Tapi kalau sebaliknya maka hasilnya tentu tidak baik dan tidak perlu dilakukan.
Apa itu Cinta yang BENAR dan Apa itu Cinta yang TIDAK BENAR ?
Cinta yang BENAR adalah Cinta yang menghendaki yang terbaik bagi pasangannya sekalipun harus mengorbankan diri sendiri, sedangkan
Cinta yang TIDAK BENAR adalah Cinta yang menghendaki yang terbaik bagi dirinya sendiri sekalipun harus mengorbankan orang lain termasuk pasangannya.
Tapi bagaimana cara membedakan aku punya Cinta yang BENAR atau TIDAK ?
Satu-satunya cara adalah dengan memeriksa diri apakah keinginan untuk
berpacaran adalah keinginan pacaran seperti salah satu atau lebih
dari gejala pacaran di bawah ini .
1. Pacaran yang menyingkirkan makna persahabatan dalam suatu hubungan
C.S. Lewis menjelaskan bahwa persahabatan adalah seperti dua orang yang berjalan berdampingan menuju suatu sasaran yang sama. Kepentingan yang sama membuat mereka bersama-sama. Pacaran seperti ini memiliki dasar pemikiran dalam bangun hubungan “saya tertarik kepadamu; oleh sebab itu, mari kita lebih saling mengenal”. Sebaliknya, dasar pemikiran persahabatan adalah, “Kita memiliki minat yang sama; jadi marilah kita menikmati kesamaan minat kita bersama-sama.” Jika daya tarik romantis terbentuk setelah mengembangkan suatu persahabatan, itu adalah bonus tambahan.
Keintiman tanpa komitmen adalah sesuatu yang memperdayakan. Komitmen terbentuk proses persahabatan. Keintiman tanpa persahabatan adalah sesuatu yang dangkal.
Suatu hubungan yang hanya didasarkan pada daya tarik fisik dan perasaan romantis hanya akan bertahan selama perasaan itu ada.
1. Pacaran yang menyingkirkan makna persahabatan dalam suatu hubungan
C.S. Lewis menjelaskan bahwa persahabatan adalah seperti dua orang yang berjalan berdampingan menuju suatu sasaran yang sama. Kepentingan yang sama membuat mereka bersama-sama. Pacaran seperti ini memiliki dasar pemikiran dalam bangun hubungan “saya tertarik kepadamu; oleh sebab itu, mari kita lebih saling mengenal”. Sebaliknya, dasar pemikiran persahabatan adalah, “Kita memiliki minat yang sama; jadi marilah kita menikmati kesamaan minat kita bersama-sama.” Jika daya tarik romantis terbentuk setelah mengembangkan suatu persahabatan, itu adalah bonus tambahan.
Keintiman tanpa komitmen adalah sesuatu yang memperdayakan. Komitmen terbentuk proses persahabatan. Keintiman tanpa persahabatan adalah sesuatu yang dangkal.
Suatu hubungan yang hanya didasarkan pada daya tarik fisik dan perasaan romantis hanya akan bertahan selama perasaan itu ada.
2. Pacaran yang cenderung menyamakan arti cinta dengan sentuhan fisik
Pacaran jenis ini menjadi korban arus budaya saat ini yang menganggap bahwa “LOVE = SEX”. Inilah tahapan pacaran jenis ini sebagai bukti dari pengaruh budaya tersebut.
Pacaran yang dilakukan bukan dengan tujuan untuk saling berkomitmen ( HTS = Hubungan Tanpa Status & TTM = Teman Tapi Mesra ) biasanya dimulai dengan daya tarik fisik atau non fisik (baik, perhatian, peduli dan sejenisnya). Sikap yang mendasari hubungan pacaran ini berasal dari penampilannya.
Selanjutnya, hubungan ini seringkali mengarah pada keintiman ( mis: saling curhat ). Karena pacaran jenis ini tidak menuntut komitmen, maka kedua insan ini terlihat membiarkan kebutuhan-kebutuhan dan gairah-gairah yang muncul di saat itu mengambil peran utama. Pasangan ini tidak saling memandang satu dengan yang lain sebagai calon pasangan hidup atau mempertimbangkan tanggung jawab untuk menikah. Sebaliknya, mereka memfokuskan diri pada tuntutan pada gairah yang muncul saat itu. Dan cara berpikir seperti itu, hubungan fisik pasangan ini dengan mudah akan jadi tujuan utama.
Keintiman fisik seolah-olah bisa membuat dua insan merasa dekat. Padahal sesungguhnya kedekatan mereka hanyalah karena menemukan adanya kesamaan kebutuhan yang mereka miliki saat itu, yaitu hawa nafsu, dan itu adalah DOSA.
Pacaran jenis ini menjadi korban arus budaya saat ini yang menganggap bahwa “LOVE = SEX”. Inilah tahapan pacaran jenis ini sebagai bukti dari pengaruh budaya tersebut.
Pacaran yang dilakukan bukan dengan tujuan untuk saling berkomitmen ( HTS = Hubungan Tanpa Status & TTM = Teman Tapi Mesra ) biasanya dimulai dengan daya tarik fisik atau non fisik (baik, perhatian, peduli dan sejenisnya). Sikap yang mendasari hubungan pacaran ini berasal dari penampilannya.
Selanjutnya, hubungan ini seringkali mengarah pada keintiman ( mis: saling curhat ). Karena pacaran jenis ini tidak menuntut komitmen, maka kedua insan ini terlihat membiarkan kebutuhan-kebutuhan dan gairah-gairah yang muncul di saat itu mengambil peran utama. Pasangan ini tidak saling memandang satu dengan yang lain sebagai calon pasangan hidup atau mempertimbangkan tanggung jawab untuk menikah. Sebaliknya, mereka memfokuskan diri pada tuntutan pada gairah yang muncul saat itu. Dan cara berpikir seperti itu, hubungan fisik pasangan ini dengan mudah akan jadi tujuan utama.
Keintiman fisik seolah-olah bisa membuat dua insan merasa dekat. Padahal sesungguhnya kedekatan mereka hanyalah karena menemukan adanya kesamaan kebutuhan yang mereka miliki saat itu, yaitu hawa nafsu, dan itu adalah DOSA.
3. Pacaran yang cenderung mengisolasi pasangan dari hubungan penting lainnya
Pacaran jenis ini mendorong dua insan saling memfokuskan diri satu dengan yang lain dan orang-orang lain di dalam dunia hanyalah sekedar latar belakang saja, padahal Amsal 15:22 jelas menuliskan “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.” Menjadikan orang-orang lain hanya sekedar latar belakang artinya ruang untuk penasihat sudah ditutup. Jika kita membuat komitmen mengenai kehidupan hanya berdasarkan pengaruh dari satu hubungan, sangat besar kemungkinan kita akan membuat penilaian yang keliru.
Ketidakpedulian untuk mendefinisikan komitmen dalam hubungan pacaran akan langsung menyemplungkan diri ke dalam situasi yang bahaya.
Dalam Passion and Purity Elisabeth Elliot menyatakan, “Jika seorang pria tidak siap meminta seorang wanita untuk menjadi istrinya, apa haknya untuk menuntut perhatian khusus dari wanita itu ? Jika seorang wanita tidak diminta untuk menjadi istri seorang pria, mengapa wanita yang berpikiran sehat mau menjanjikan perhatian khusus kepada pria itu ?” Hiii…ngeri kan, kalau saat kita bubar-an dengan doi, eh..,ternyata kita baru sadar bahwa hubungan kita dengan teman-teman yang lain jadi rusak selama ini.
Pacaran jenis ini mendorong dua insan saling memfokuskan diri satu dengan yang lain dan orang-orang lain di dalam dunia hanyalah sekedar latar belakang saja, padahal Amsal 15:22 jelas menuliskan “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.” Menjadikan orang-orang lain hanya sekedar latar belakang artinya ruang untuk penasihat sudah ditutup. Jika kita membuat komitmen mengenai kehidupan hanya berdasarkan pengaruh dari satu hubungan, sangat besar kemungkinan kita akan membuat penilaian yang keliru.
Ketidakpedulian untuk mendefinisikan komitmen dalam hubungan pacaran akan langsung menyemplungkan diri ke dalam situasi yang bahaya.
Dalam Passion and Purity Elisabeth Elliot menyatakan, “Jika seorang pria tidak siap meminta seorang wanita untuk menjadi istrinya, apa haknya untuk menuntut perhatian khusus dari wanita itu ? Jika seorang wanita tidak diminta untuk menjadi istri seorang pria, mengapa wanita yang berpikiran sehat mau menjanjikan perhatian khusus kepada pria itu ?” Hiii…ngeri kan, kalau saat kita bubar-an dengan doi, eh..,ternyata kita baru sadar bahwa hubungan kita dengan teman-teman yang lain jadi rusak selama ini.
4. Pacaran yang cenderung mengalihkan perhatian dari tanggung jawab utama untuk mempersiapkan masa depan
Perhatian yang begitu besar dari pacaran jenis ini terhadap ‘CINTA’ (kenikmatan dalam keintiman) biasanya membuat kedua insan dengan mudahnya mengabaikan kewajiban-kewajiban di masa kini baik dalam hal pekerjaan maupun dalam tanggung jawab di keluarga dan pelayanan. Berbagai teguran, nasihat bahkan cemoohan baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi biasanya membayangi hubungan pacaran jenis ini karena hilangnya keteladanan yang selama ini telah dibangunnya.
Perhatian yang begitu besar dari pacaran jenis ini terhadap ‘CINTA’ (kenikmatan dalam keintiman) biasanya membuat kedua insan dengan mudahnya mengabaikan kewajiban-kewajiban di masa kini baik dalam hal pekerjaan maupun dalam tanggung jawab di keluarga dan pelayanan. Berbagai teguran, nasihat bahkan cemoohan baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi biasanya membayangi hubungan pacaran jenis ini karena hilangnya keteladanan yang selama ini telah dibangunnya.
5. Pacaran yang mengurangi rasa syukur dengan masa single yang dijalani
Allah memberikan kepada kita masa single – satu masa yang tak tertandingi di dalam kehidupan kita dalam banyak kesempatan untuk bertumbuh, belajar, dan melayani – dan seringkali dipandang sebagai suatu kesempatan untuk berhenti dari semuanya itu demi menemukan dan memelihara hubungan dengan pacar-pacar kita. Keindahan yang sesungguhnya dari masa single tidak dapat kita dapatkan dengan cara mengejar kisah cinta dengan orang yang kita inginkan. Kita menemukan keindahan sesungguhnya dengan cara menggunakan kebebasan kita untuk melayani Allah dengan bebas.
Pacaran jenis ini tidak akan membuat orang menikmati masa single yang indah, melainkan justru menyebabkan orang memfokuskan diri pada apa yang tidak mereka miliki.
Allah memberikan kepada kita masa single – satu masa yang tak tertandingi di dalam kehidupan kita dalam banyak kesempatan untuk bertumbuh, belajar, dan melayani – dan seringkali dipandang sebagai suatu kesempatan untuk berhenti dari semuanya itu demi menemukan dan memelihara hubungan dengan pacar-pacar kita. Keindahan yang sesungguhnya dari masa single tidak dapat kita dapatkan dengan cara mengejar kisah cinta dengan orang yang kita inginkan. Kita menemukan keindahan sesungguhnya dengan cara menggunakan kebebasan kita untuk melayani Allah dengan bebas.
Pacaran jenis ini tidak akan membuat orang menikmati masa single yang indah, melainkan justru menyebabkan orang memfokuskan diri pada apa yang tidak mereka miliki.
6. Pacaran yang membuat tidak dapat menilai pasangan dengan wajar
Single yang sungguh-sungguh ingin mencari tahu apakah si doi adalah calon pasangan hidup yang tepat, harus kudu hati-hati deh dengan pacaran yang jenis ini, soalnya pasti rencana jadi gagal. Mengapa ? Sebab secara disadari atau tidak pacaran jenis ini akan menciptakan suatu dunia mimpi bagi dua insan yang sedang bermadu kasih. Akibatnya tentu yang dinilai dari si doi adalah sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan yang bukan sebenarnya.
Single yang sungguh-sungguh ingin mencari tahu apakah si doi adalah calon pasangan hidup yang tepat, harus kudu hati-hati deh dengan pacaran yang jenis ini, soalnya pasti rencana jadi gagal. Mengapa ? Sebab secara disadari atau tidak pacaran jenis ini akan menciptakan suatu dunia mimpi bagi dua insan yang sedang bermadu kasih. Akibatnya tentu yang dinilai dari si doi adalah sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan yang bukan sebenarnya.
7. Pacaran yang menjadi tujuan dari semua hubungan yang dibangun
Ini adalah alasan dari pacaran jenis ini yang akan menjadi titik akhir dari hubungan yang dibangun selama ini. Karena rasa bahagia karena keintiman yang dibangun itu disebabkan oleh pengaruh hormon neutrophin dan hormon ini jumlahnya hanya terbatas. Seharusnya setelah hormone ini habis digantikan dengan hormon lain yang diproduksi seiring dengan komitmen yang dibangun dalam pernikahan.
Pacaran jenis ini hanya bertujuan menikmati sampai puas rasa bahagia dari hormon neutrophin, akibatnya jika hormon ini sudah habis padahal tidak ada rencana untuk komitmen masuk dalam pernikahan. Maka akan berakhirlah hubungan pacaran ini karena sudah tidak ada chemistry-nya lagi.
Ini adalah alasan dari pacaran jenis ini yang akan menjadi titik akhir dari hubungan yang dibangun selama ini. Karena rasa bahagia karena keintiman yang dibangun itu disebabkan oleh pengaruh hormon neutrophin dan hormon ini jumlahnya hanya terbatas. Seharusnya setelah hormone ini habis digantikan dengan hormon lain yang diproduksi seiring dengan komitmen yang dibangun dalam pernikahan.
Pacaran jenis ini hanya bertujuan menikmati sampai puas rasa bahagia dari hormon neutrophin, akibatnya jika hormon ini sudah habis padahal tidak ada rencana untuk komitmen masuk dalam pernikahan. Maka akan berakhirlah hubungan pacaran ini karena sudah tidak ada chemistry-nya lagi.
Berpacaran dengan cara yang benar !
yaitu bahwa kamu,
berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan
manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,
supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan
manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam
kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Efesus 4:22-24
Bukan masalah boleh atau tidaknya
berpacaran, yang jadi masalah apa yang menjadi motivasi berpacaran
dan bagaimana itu dilakukannya. Kalau kamu betul-betul serius ingin
mengubah cara berpacaranmu atau memulainya dalam kebenaran,
yuk...perhatikan kelima cara pandang di bawah ini yang akan mengubah
motivasi dan caramu melakukan pacaran.
1. Bagi saya, setiap hubungan adalah kesempatan untuk meneladani kasih Kristus.
Teoritis banget....kedengarannya. Tapi memang, hanya kebenaran inilah yang akan memberikan dasar berpacaran dengan cara yang benar. Perhatikan contoh kasus di bawah ini:
Beti adalah seorang mahasiswi tingkat pertama yang ramah di sebuah universitas Kristen dan memiliki reputasi agak genit. Sayangnya, sebagian besar interaksinya dengan pria bersifat palsu – hubungan itu berfokus untuk menarik perhatian bagi dirinya sendiri dan mendapatkan reaksi dari siapapun yang saat itu disukainya. Beti menginvestasikan lebih banyak energi untuk membuat seorang pria menyukai dirinya daripada untuk memacu kekasihnya untuk bertumbuh imannya dalam Kristus.
Tetapi ketika Beti mengubah cara pandangnya dan menyadari bahwa persahabatannya dengan para pria merupakan kesempatan untuk mengasihi mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Kristus, terjadi perubahan 180 derajat di dalam dirinya, dari kasih yang menggoda menjadi kasih Agape, yang memperlakukan para pria sebagai saudara laki-laki, bukan sebagai pacar yang potensial. Bukannya memandang dirinya sebagai pusat alam semesta di mana semua orang lain berputar mengelilingi dirinya, melainkan justru menolong orang lain menemukan pusat alam semesta yang sesungguhnya yaitu Yesus.
Kalau kita menjalani hidup dengan cara pandang ini, maka sesungguhnya
kita sedang menyiapkan hati untuk terbiasa dengan Kasih Agape, kasih
yang tidak egois, kasih yang akan sanggup mengikat seorang pria
dengan wanita dalam pernikahan sampai akhir hayat mereka.Teoritis banget....kedengarannya. Tapi memang, hanya kebenaran inilah yang akan memberikan dasar berpacaran dengan cara yang benar. Perhatikan contoh kasus di bawah ini:
Beti adalah seorang mahasiswi tingkat pertama yang ramah di sebuah universitas Kristen dan memiliki reputasi agak genit. Sayangnya, sebagian besar interaksinya dengan pria bersifat palsu – hubungan itu berfokus untuk menarik perhatian bagi dirinya sendiri dan mendapatkan reaksi dari siapapun yang saat itu disukainya. Beti menginvestasikan lebih banyak energi untuk membuat seorang pria menyukai dirinya daripada untuk memacu kekasihnya untuk bertumbuh imannya dalam Kristus.
Tetapi ketika Beti mengubah cara pandangnya dan menyadari bahwa persahabatannya dengan para pria merupakan kesempatan untuk mengasihi mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Kristus, terjadi perubahan 180 derajat di dalam dirinya, dari kasih yang menggoda menjadi kasih Agape, yang memperlakukan para pria sebagai saudara laki-laki, bukan sebagai pacar yang potensial. Bukannya memandang dirinya sebagai pusat alam semesta di mana semua orang lain berputar mengelilingi dirinya, melainkan justru menolong orang lain menemukan pusat alam semesta yang sesungguhnya yaitu Yesus.
2. Bagi saya, masa lajang adalah karunia Allah
Ambillah kertas dan pulpen, buatlah daftar hal-hal positif apa saja yang hanya dapat dilakukan dengan leluasa dalam masa lajang dan akan menjadi sulit bahkan mustahil dilakukan setelah menikah. Kamu akan terkejut dengan banyaknya daftar yang dibuat.
Sebelum kita menyadari bahwa masa lajang kita adalah karunia Allah, maka kita akan terus kehilangan kesempatan-kesempatan luar biasa yang ada di dalamnya.
Bahkan mungkin saat ini kita dapat berpikir tentang sebuah kesempatan yang dapat kita raih jika kita melepaskan pola pikir tentang kencan. Sebagai seorang lajang, saat ini kita memiliki kebebasan untuk bereksplorasi, belajar dan menghadapi dunia. Tidak ada waktu lain di dalam hidup kita yang akan menawarkan lagi kesempatan-kesempatan tersebut.
3. Bagi saya, Saya tidak perlu mengejar hubungan percintaan sebelum saya siap untuk menikah.Ambillah kertas dan pulpen, buatlah daftar hal-hal positif apa saja yang hanya dapat dilakukan dengan leluasa dalam masa lajang dan akan menjadi sulit bahkan mustahil dilakukan setelah menikah. Kamu akan terkejut dengan banyaknya daftar yang dibuat.
Sebelum kita menyadari bahwa masa lajang kita adalah karunia Allah, maka kita akan terus kehilangan kesempatan-kesempatan luar biasa yang ada di dalamnya.
Bahkan mungkin saat ini kita dapat berpikir tentang sebuah kesempatan yang dapat kita raih jika kita melepaskan pola pikir tentang kencan. Sebagai seorang lajang, saat ini kita memiliki kebebasan untuk bereksplorasi, belajar dan menghadapi dunia. Tidak ada waktu lain di dalam hidup kita yang akan menawarkan lagi kesempatan-kesempatan tersebut.
Sukacita keintiman adalah upah dari sebuah komitmen.
Allah telah menciptakan kita semua dengan suatu hasrat untuk memiliki keintiman, dan Ia sendiri akan mengupayakan supaya kita dapat mengalaminya suatu kelak nanti. Ketika kita masih lajang, Allah tidak mengharapkan hasrat ini hilang, tetapi Ia meminta supaya kita sabar menantikan waktunya dan selama masa penantian ini, hasrat ini dapat disalurkan dengan hubungan intim yang dibangun dengan keluarga dan persaudaraan dalam Kristus.
Cinta akan Allah berikan seiring dengan gaya hidup membangun keintiman secara sehat dalam persaudaraan dalam Kristus, kapan waktunya cinta itu diberikan adalah rahasianya Allah.
Ini tidak berarti bahwa kita harus menikahi orang pertama di mana kita menemukan keduanya, yaitu cinta dan keintiman. Walaupun ada saja beberapa orang yang menikahi orang pertama dengan siapa mereka telah mengembangkan hubungan intim dan romantik, tapi sebagian besar pasangan yang dijumpai tidak mengikuti jalur ini.
Yang jadi masalah bagaimana kita dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah orang yang kelak akan kita nikahi? Bertanya kepada Tuhan? Tidak semudah itu, ternyata.
Kita butuh orang lain yang bisa dipercaya! Kita butuh seorang kakak yang pernah mengalami hal yang sama, yang telah menikah, yang memahami Kebenaran Firman Tuhan dan yang dapat menolong kita untuk tidak salah menentukan sikap.
Orang inilah yang bisa kita jumpai kalau mengikuti Bimbingan PraNikah (BPN) Abbalove.
Mengikuti Bimbingan PraNikah bukan berarti sudah harus memiliki pasangan yang sudah siap menikah, tapi di saat hati ini sedang bimbang dalam menentukan pilihan kita sudah dapat mengikuti konseling yang dilayani oleh para Pembina PraNikah Abbalove.
Allah telah menciptakan kita semua dengan suatu hasrat untuk memiliki keintiman, dan Ia sendiri akan mengupayakan supaya kita dapat mengalaminya suatu kelak nanti. Ketika kita masih lajang, Allah tidak mengharapkan hasrat ini hilang, tetapi Ia meminta supaya kita sabar menantikan waktunya dan selama masa penantian ini, hasrat ini dapat disalurkan dengan hubungan intim yang dibangun dengan keluarga dan persaudaraan dalam Kristus.
Cinta akan Allah berikan seiring dengan gaya hidup membangun keintiman secara sehat dalam persaudaraan dalam Kristus, kapan waktunya cinta itu diberikan adalah rahasianya Allah.
Ini tidak berarti bahwa kita harus menikahi orang pertama di mana kita menemukan keduanya, yaitu cinta dan keintiman. Walaupun ada saja beberapa orang yang menikahi orang pertama dengan siapa mereka telah mengembangkan hubungan intim dan romantik, tapi sebagian besar pasangan yang dijumpai tidak mengikuti jalur ini.
Yang jadi masalah bagaimana kita dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah orang yang kelak akan kita nikahi? Bertanya kepada Tuhan? Tidak semudah itu, ternyata.
Kita butuh orang lain yang bisa dipercaya! Kita butuh seorang kakak yang pernah mengalami hal yang sama, yang telah menikah, yang memahami Kebenaran Firman Tuhan dan yang dapat menolong kita untuk tidak salah menentukan sikap.
Orang inilah yang bisa kita jumpai kalau mengikuti Bimbingan PraNikah (BPN) Abbalove.
Mengikuti Bimbingan PraNikah bukan berarti sudah harus memiliki pasangan yang sudah siap menikah, tapi di saat hati ini sedang bimbang dalam menentukan pilihan kita sudah dapat mengikuti konseling yang dilayani oleh para Pembina PraNikah Abbalove.
4. Bagi saya, saya tidak dapat “Memiliki” seseorang di luar pernikahan
Dalam pandangan Allah, dua orang yang menikah adalah menjadi satu kesatuan. Dan ketika kita terus bertambah dewasa, sering kali kita akan mengukir kesatuan yang berasal dari berbagi kehidupan dengan seseorang lawan jenis yang di luar konteks pernikahan. Satu hal yang kita boleh lupakan, bahwa sebelum kita siap untuk mengikat diri kita di dalam pernikahan, kita tidak memiliki hak untuk memperlakukan siapapun seolah-olah orang itu adalah milik kita.
Mintalah Allah menunjukkan kepada kita, apakah kita perlu mengevaluasi kembali hubungan khusus kita dengan seseorang yang sedang dibangun saat ini.
Dalam pandangan Allah, dua orang yang menikah adalah menjadi satu kesatuan. Dan ketika kita terus bertambah dewasa, sering kali kita akan mengukir kesatuan yang berasal dari berbagi kehidupan dengan seseorang lawan jenis yang di luar konteks pernikahan. Satu hal yang kita boleh lupakan, bahwa sebelum kita siap untuk mengikat diri kita di dalam pernikahan, kita tidak memiliki hak untuk memperlakukan siapapun seolah-olah orang itu adalah milik kita.
Mintalah Allah menunjukkan kepada kita, apakah kita perlu mengevaluasi kembali hubungan khusus kita dengan seseorang yang sedang dibangun saat ini.
5. Bagi saya, saya akan
menghindari situasi-situasi yang dapat membuat saya berkompromi
dengan kesucian tubuh atau pikiran saya
Jessica, adalah seorang gadis yang sangat naif. Walaupun ia masih perawan dan telah berkomitmen untuk menyimpan seks hingga pernikahan, ia menempatkan dirinya dalam situasi-situasi yang memungkinkan terjadinya kompromi dengan pacarnya – mengerjakan tugas sekolah di rumahnya ketika ibunya pergi, berenang berdua, mengakhiri kencan mereka di mobil yang diparkir. Jika Jessica jujur, ia akan mengakui bahwa ia menyukai kenikmatan dari situasi-situasi tersebut. Ia merasa bahwa hal itu sangat romantik, dan hal itu memberikan kepadanya perasaan dapat mengendalikan pacarnya, yang, jujur saja, akan menuntut hubungan fisik yang semakin jauh.
Tetapi ketika Jessica mengambil sebuah sikap baru, ia melihat bahwa kekudusan adalah lebih dari sekedar mempertahankan keperawanan. Ketika ia secara jujur menguji hubungannya dengan pacaranya, ia menyadari bahwa ia telah membelok dari jalur kekudusan. Untuk kembali ke jalur yang benar, ia harus mengubah gaya hidupnya secara drastis. Pertama-tama ia memutuskan hubungan dengan pacarnya karena hubungan itu berfokus pada aspek fisik. Kemudian ia berjanji untuk menghindari situasi-situasi yang membuatnya bisa berkompromi terhadap dosa.
Di mana, kapan dan dengan siapa kita memilih untuk menghabiskan waktu kita akan mengungkapkan seberapa jauh komitmen kita terhadap kekudusan. Ujilah kecenderungan-kecenderungan ini. Jika benar adanya, pastikan bahwa kita tidak menempatkan diri lagi dalam situasi-situasi yang membuka celah pada godaan.
Jessica, adalah seorang gadis yang sangat naif. Walaupun ia masih perawan dan telah berkomitmen untuk menyimpan seks hingga pernikahan, ia menempatkan dirinya dalam situasi-situasi yang memungkinkan terjadinya kompromi dengan pacarnya – mengerjakan tugas sekolah di rumahnya ketika ibunya pergi, berenang berdua, mengakhiri kencan mereka di mobil yang diparkir. Jika Jessica jujur, ia akan mengakui bahwa ia menyukai kenikmatan dari situasi-situasi tersebut. Ia merasa bahwa hal itu sangat romantik, dan hal itu memberikan kepadanya perasaan dapat mengendalikan pacarnya, yang, jujur saja, akan menuntut hubungan fisik yang semakin jauh.
Tetapi ketika Jessica mengambil sebuah sikap baru, ia melihat bahwa kekudusan adalah lebih dari sekedar mempertahankan keperawanan. Ketika ia secara jujur menguji hubungannya dengan pacaranya, ia menyadari bahwa ia telah membelok dari jalur kekudusan. Untuk kembali ke jalur yang benar, ia harus mengubah gaya hidupnya secara drastis. Pertama-tama ia memutuskan hubungan dengan pacarnya karena hubungan itu berfokus pada aspek fisik. Kemudian ia berjanji untuk menghindari situasi-situasi yang membuatnya bisa berkompromi terhadap dosa.
Di mana, kapan dan dengan siapa kita memilih untuk menghabiskan waktu kita akan mengungkapkan seberapa jauh komitmen kita terhadap kekudusan. Ujilah kecenderungan-kecenderungan ini. Jika benar adanya, pastikan bahwa kita tidak menempatkan diri lagi dalam situasi-situasi yang membuka celah pada godaan.
Ojo Males toh... (Andreas Dwi Chrisdiantoro_STTIA SURABAYA)
OJO MALES...!!!
Lalu
pergilah Amasa mengerahkan orang Yehuda, tetapi ia menunda-nunda tugas
itu sampai melewati waktu yang ditetapkan raja baginya.
Amasa
adalah contoh dari orang yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
Sikap menunda-nunda akhirnya mendatangkan akibat fatal dalam hidup
Amasa Kebiasaan menunda ialah masalah yang hampir dimiliki oleh
setiap orang. Menunda ialah masalah yang rumit, karena melibatkan
banyak sebab: rendahnya kendali diri, takut gagal, perfeksionis,
merasa lemah-tak berdaya karena melihat masalah sebagai sesuatu yang
besar dan tak mampu memecahnya menjadi bagian yang lebih kecil, dan
takut bosan. Karena itu, tidak ada obat tunggal yang dapat mengobati
semua masalah penundaan.
Sifat kebiasaan menunda bisa menjadi virus pencapaian target kita.
Artikel ini akan mengajak kita semua untuk mengkonstruksi ulang
cara-cara hidup kita, dan menatanya untuk lebih produktif lagi.
Ada 10 alasan mengapa orang memiliki kebiasaan menunda, yaitu : .
1. Takut salah
2. Belum tahu caranya
3. Takut dimarahi kalau salah
4. Tidak yakin kalau saya bisa kerjakan
5. Tidak suka pekerjaan atau kegiatan tersebut
6. Tidak ada reward yang jelas
7. Mau semuanya lengkap dulu, baru kerjakan
8. Tidak ada yang kejar atau menagih.....ya...nanti dulu deh
9. Bukan "gua banget nih" tugas ini
10. Ada kegiatan lain yang menarik (misalnya games, sinetron, dll)
Leadership
Servanthood Leadership
Yesus mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Bagi yang
ingin didepan haruslah menjadi yang paling belakang. Yang ingin
menjadi pemimpin haruslah menjadi hamba
Kebesaran dikaitkan-Nya dengan pelayanan, dan
pemimpin dihubungkan dengan hamba. Kebesaran seorang pemimpin tidak
terletak pada berapa banyak pengikutnya, tetapi berapa banyak orang
yang dilayaninya. Keberhasilannya bukan diukur dari kedudukannya yang
tinggi, melainkan integritasnya dalam mengabdi. Prinsip kepemimpinan
yang didasarkan kehambaan sangat penting untuk dipraktekan didunia
kerja. Kita tidak bisa memisahkan pelayanan di gereja dan dan di
dunia kerja. Bahkan di dunia kerjapun kita harus melayani siapapun
yang Tuhan temukan dengan kita.
Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan
menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter.
Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam dan kemudian bergerak ke luar
untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah pentingnya karakter
dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin sejati dan
diterima oleh para karyawan yang dipimpinnya.
Menurut Larry C. Spears (1995), mengacu pada
pemikiran Greenleaf, terdapat karakteristik seorang pemimpin maupun
calon pemimpin yang ditunjukkan dari sikap dan perilaku pemimpin
tersebut, yang dipaparkan yaitu: "Tujuan paling utama seorang
pemimpin adalah melayani kepentingan mereka yang dipimpinnya.
Orientasinya adalah bukan untuk kepentingan diri pribadi maupun
golongannya tetapi justru kepentingan kelompok yang dipimpinnya"
Bagaimana cara mempraktekkan "kepimpinan yang
melayani" ditempat kerja? Saya menemukan minimal ada 20 tindakan yang
bisa kita praktekan untuk melayani orang-orang yang kita pimpin.
Namun didalam artikel ini, saya akan uraikan 7 cara melayani karyawan
agar mereka bisa bekerja dengan produktif.
8 Cara Melayani Karyawan Anda
1. Menetapkan tujuan kerja dengan standar kerja yang jelas
o “Apakah anak buah tahu apa yang diharapkan dari Anda di tempat kerja?" Dengan kata lain: apakah anak buah Anda sudah jelas, untuk apa ia bekerja dan apakah ia memahami tujuan dari Anda sebagai atasan?
o Penetapan tujuan yang jelas dengan standar yang rinci, merupakan hal terpenting dalam manajemen kinerja yang efektif. Ketika dilakukan dengan baik, itu mengarahkan keterlibatan, moral dan produktivitas; ketika dilakukan buruk, hal itu dapat merusak semua usaha Anda untuk sukses.
1. Menetapkan tujuan kerja dengan standar kerja yang jelas
o “Apakah anak buah tahu apa yang diharapkan dari Anda di tempat kerja?" Dengan kata lain: apakah anak buah Anda sudah jelas, untuk apa ia bekerja dan apakah ia memahami tujuan dari Anda sebagai atasan?
o Penetapan tujuan yang jelas dengan standar yang rinci, merupakan hal terpenting dalam manajemen kinerja yang efektif. Ketika dilakukan dengan baik, itu mengarahkan keterlibatan, moral dan produktivitas; ketika dilakukan buruk, hal itu dapat merusak semua usaha Anda untuk sukses.
.
2. Menyiapkan standar operasional prosedur kerja yang jelas dan rinci
* Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan suatu tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja perusahaan berdasarkan indikator-indikator teknis yang sangat jelas, baik bagi karyawan maupun atasan
2. Menyiapkan standar operasional prosedur kerja yang jelas dan rinci
* Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan suatu tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja perusahaan berdasarkan indikator-indikator teknis yang sangat jelas, baik bagi karyawan maupun atasan
* Tujuan SOP adalah menciptakan komitment mengenai
apa yang dikerjakan oleh satuan unit kerja untuk mewujudkan target
perusahaan .
* Dengan memiliki SOP yang jelas, akan memudahkan karyawan untuk mencapai target perusahaan. Dan juga akan mengurangi kesalah-fahaman dan konflik atasan karyawan
3. Selalu mengecek, apakah ada kebijakan dari Anda yang justru melambatkan kecepatan kerja anak buah Anda
* Atasan yang melayani karyawan adalah atasan yang selalu mendeteksi berbagai arus kerja maupun kebijakan perusahaan yang memperlambat karyawan untuk mencpaai target perusahaan
* Contohnya, seorang salesman setiap diminta diskon yang lebih besar oleh pelanggan, salesman harus menelpon Sales Supervisor di kantor untuk mendapatkan persetujuan
* Dengan memiliki SOP yang jelas, akan memudahkan karyawan untuk mencapai target perusahaan. Dan juga akan mengurangi kesalah-fahaman dan konflik atasan karyawan
3. Selalu mengecek, apakah ada kebijakan dari Anda yang justru melambatkan kecepatan kerja anak buah Anda
* Atasan yang melayani karyawan adalah atasan yang selalu mendeteksi berbagai arus kerja maupun kebijakan perusahaan yang memperlambat karyawan untuk mencpaai target perusahaan
* Contohnya, seorang salesman setiap diminta diskon yang lebih besar oleh pelanggan, salesman harus menelpon Sales Supervisor di kantor untuk mendapatkan persetujuan
4. Memastikan bahwa Anda sudah meresponi dengan cepat pertanyaan-pertanyaan anak buah
* Coba intropeksi diri Anda, apakah setiap ada keputusan yang ditunggu oleh anak buah, apakah Anda sudah meresponi dalam waktu yang cepat?
* Bila jawabannya "Saya selalu memberi keputusan yang cepat", maka Anda sudah melayani anak buah untuk bekerja dengan baik
5. Membantu anak buah supaya bisa kerjasama dengan bagian lain dan menciptakan sinergi
* Bia ada anak buah yang sulit bekerjasama dengan orang lain, lakukan sesuatu, perbaiki situasinya, jadilah jembatan untuk kedua belah pihak, supaya mereka bisa kerja sama dengan baik
* Jangan lakukan proses pembiaran, dengan harapan mereka akan secara otomatis pulih hubungan kerjanya
6. Memastikan sarana dan fasilitas kerja anak buah Anda cukup mendukung mereka bekerja dengan baik
* Bila ada printer yang sudah lambat dan sering rusak, apa tindakan Anda?
* Bila ada mesin yang bolak-balik rusak dan harus direparasi, apa keputusan Anda?
* Bila koneksi internet Anda sudah super "lelet" dan sudah tidak sesuai dengan load kerja sekarang, apa tindakan Anda?
* Apakah Anda lakukan proses pembiaran, atau Anda segera ambil tindakan untuk perbaiki kondisi yang ada?
7. Memastikan lingkungan kerja cukup nyaman untuk bekerja dengan produktif
* Apakah ruang kerja staff Anda super sempit dan ruang kerja Anda seluas lapangan bola?
* Apakah anak buah bekerja harus sambil kipas-kipas, sedangkan Anda menikmati AC 2 Pk?
* Apakah ruang kerja karyawan Anda panas, pengap dan berdebu sedangkan ruang kerja Anda mewah bak istana?
* BIla jawabannya ya, berarti Anda harus tinjau ulang, apakah Anda sudah melayani kebutuhan anak buah Anda supayan bekerja nyaman?
* Apakah ruang kerja staff Anda super sempit dan ruang kerja Anda seluas lapangan bola?
* Apakah anak buah bekerja harus sambil kipas-kipas, sedangkan Anda menikmati AC 2 Pk?
* Apakah ruang kerja karyawan Anda panas, pengap dan berdebu sedangkan ruang kerja Anda mewah bak istana?
* BIla jawabannya ya, berarti Anda harus tinjau ulang, apakah Anda sudah melayani kebutuhan anak buah Anda supayan bekerja nyaman?
8. Secara rutin siapkan waktu untuk mendengar
berbagai kesulitan anak buah dan kemudian berikan pemecahan masalah
dan solusi secepatnya. Turun ke lapangan, bukan perintah dari
belakang meja saja
Tujuan turun ke lapangan :
* Berdialog dengan orang-orang
* Mendeteksi berbagai permasalahan di lapangan / operasional
* Mencarikan solusi yang cepat di tingkat operasional
Tujuan turun ke lapangan :
* Berdialog dengan orang-orang
* Mendeteksi berbagai permasalahan di lapangan / operasional
* Mencarikan solusi yang cepat di tingkat operasional
SPORT
SPORT
By : Andre
Foto dari kiri:
Teris, Sroyer, Charles, Daniel
Dan yang paling depan adalah saya sendiri..
Seneng banget bisa maen ama temen-temen mahasiswa STTIA...
Waktu itu kami maen lawan Kaum Muda Lemah Putro (Duta Teruna-GPT Kristus Gembala)
.... Semangat ya temen-temen.......
Keep Yoursmile...
Rabu, 23 Januari 2013
Eksposisi Matius 26:39
Eksposisi Matius 26:39
Oleh Andreas Dwi Chrisdiantoro_STTIA Surabaya
MATIUS
26:39
Maka
Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya:
"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin,
biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki,
melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (TB)
BAB
I
PENDAHULUAN
Dalam perjalanan iman
kita sebagai orang Kristen, seringkali diperhadapkan pada situasi yang sangat
sulit, sehingga tidak tahu harus berbuat apa. Misalnya, baru saja merintis
usaha yang baru. Di tengah perjalanan harus berhenti karena ditipu oleh rekan
bisnis yang selama ini kita percayai. Suami baru saja keluar dari Rumah Sakit,
sekarang gilirannya anak sakit dan harus dioperasi, sementara itu sudah tidak
punya uang untuk membiayainya. Bingung rasanya. Tetapi, inilah sebuah kenyataan
yang sering kita alami dalam realita hidup sehari-hari.
Dalam kondisi seperti
ini, biasanya banyak orang yang bereaksi kepada Tuhan. Entah itu reaksinya
positif atau negatif. Yang positif misalnya, menjadikan kondisi pahit yang
sedang dialaminya untuk mengintrospeksi diri – memeriksa diri, mungkin ada
maksud Tuhan yang belum dia mengerti. Tetapi yang negatif, dia akan protes
Tuhan dan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Apakah Tuhan itu ada? Apakah Tuhan
itu mengasihi saya? Apakah Tuhan itu memperhatikan saya atau tidak? Lalu mulai
menghitung jasa-jasanya di hadapan Allah. Saya sudah membayar perpuluhan. Saya
sudah melayani Tuhan. Saya sudah berdoa dengan sungguh-sungguh. Saya sudah
melakukan kehendak Allah dengan baik. Tetapi, mengapa semua ini menimpa hidup saya.
Namun, saat ini kita
akan belajar dari Yesus. Yesus adalah Tuhan. Yesus adalah Allah. Yesus adalah
Tuhan atas segalanya. Namun dalam rangka menjalankan misi Bapa di dunia ini,
juga menghadapi masa-masa penuh pergumulan. Masa-masa penuh penderitaan.
Pergumulan di Getsemani
adalah sebuah pergumulan yang sangat berat bagi Yesus. Pergumulan saat-saat
terakhir menghadapi salib. Pergumulan untuk menanggung dosa dunia ini. Dia
harus bergumul untuk kesalahan dan dosa umat manusia yang telah mengkhianati
Allah.
Dalam menghadapi pergumulan itu, apakah
yang Yesus lakukan? Alkitab mengatakan : Yesus Berdoa.[1]
- Latar Belakang Masalah
Injil Matius dan Injil Markus menempatkan awal
pengkhianatan Yudas Iskariot setelah peristiwa pengurapan Yesus oleh Maria,
saudara Lazarus, di rumah Simon si kusta, di kota Betania, 6 hari sebelum
Paskah. Injil Yohanes mencatat bahwa Yudas Iskariot menggalang murid-murid
Yesus untuk menunjukkan rasa tidak senang, bahwa minyak narwastu yang mahal itu
dibuang percuma untuk mengurapi kepala dan kaki Yesus Kristus. Hal itu
dikatakannya bukan karena Yudas memperhatikan nasib orang-orang miskin,
melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang
disimpan dalam kas yang dipegangnya. Yesus menegurnya bahwa pengurapan ini
untuk mempersiapkan penguburan-Nya, sehingga kemungkinan Yudas menjadi marah
tersinggung dan juga kecewa karena Yesus tidak berniat untuk memberontak
terhadap orang Romawi, melainkan malah bersiap untuk mati.
Karena itu masuklah Iblis ke dalam Yudas, dan
pergilah ia kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan
berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.
Yudas berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku
menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan
mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya, 30 uang perak. Dan mulai saat
itu Yudas mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus tanpa setahu
orang banyak.
- Latar Belakang Ayat
2.1 Kitab
Injil Matius adalah satu di antara empat Injil
Perjanjian Baru (PB). Injil secara tradisi disalin dalam urutan dengan Matius
terlebih dulu, disusul dengan Markus, Lukas dan Yohanes. Bersama-sama Injil
Markus dan Lukas, Injil ini digolongkan Injil sinoptis.
Kitab Matius mempunyai amanat tentang "Kabar
Baik" (injil; bahasa Inggris: gospel) bahwa Yesus adalah Raja Penyelamat
yang dijanjikan oleh Tuhan, ini dapat terlihat melalui contoh Doa Bapa Kami.
Melalui Kerajaan Allah inilah Yesus Kristus akan memulihkan kondisi Bumi dan
kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, hal inilah yang akan menjadi kesaksian
bagi semua bangsa, barulah akhir sistem dunia ini berakhir. Melalui Yesus
itulah Tuhan menepati apa yang telah dijanjikan-Nya di dalam Perjanjian Lama
kepada umat-Nya. Sekalipun Yesus lahir dari orang Yahudi dan hidup sebagai
orang Yahudi, namun Kabar Baik itu bukanlah hanya untuk bangsa Yahudi saja
melainkan untuk seluruh dunia.
2.2 Penulis
Kesaksian semua bapa gereja yang mula-mula (sejak
kira-kira tahun 130 M menyatakan bahwa injil ini ditulis oleh Matius.[2] Dia anak Alfeus (Mat.9:9, 10:3, Mrk.2:14).
Dia disebut “pemungut cukai” (Yun, “Telones”). Matius penulis Injil ini
dianggap sama dengan Matius pemungut cukai, yang bertobat lalu mengikuti Yesus.[3] Dalam Injil Markus dan Injil Lukas, Matius
pemungut cukai ini disebut Lewi.[4]
Meskipun ada yang menduga ditulis oleh Matius lain yang hidup 80 tahun setelah
Yesus wafat. Namun, penemuan naskah papirus yang sekarang disimpan di Magdalen
College, Oxford, Inggris, menunjukkan bahwa Injil Matius ini sudah selesai
ditulis sebelum tahun 66 M.[5]
2.3 Tujuan
Matius menulis Injil ini:
1.
Untuk memberikan
kepada sidang pembacanya kisah seorang saksi mata mengenai kehidupan Yesus,
2.
Untuk meyakinkan
pembacanya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang dinubuatkan oleh nabi-nabi
Perjanjian Lama, yang sudah lama dinantikan, dan
3.
Untuk
menunjukkan bahwa Kerajaan Allah dinyatakan di dalam dan melalui Yesus Kristus
dalam cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Matius ingin sekali agar pembacanya memahami bahwa:
1.
Hampir semua
orang Israel menolak Yesus dan kerajaan-Nya. Mereka tidak mau percaya karena Ia
datang sebagai Mesias yang rohani dan bukan sebagai Mesias yang politis (yang
akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi).
2.
Hanya pada akhir
zaman, Yesus akan datang dalam kemuliaan-Nya sebagai Raja segala raja untuk
menghakimi dan memerintah semua bangsa.
BAB
II
MATIUS
26:39
(Lukas 22:41-46; Markus 14:34-36)
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud
dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah
cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki,
melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (TB)
BIS
(Bahasa Indonesia Sehari-hari)
|
Sekali lagi Yesus pergi berdoa, kata-Nya, "Bapa,
kalau penderitaan ini harus Aku alami, dan tidak dapat dijauhkan, biarlah
kemauan Bapa yang jadi."
|
TL
(Terjemahan Lama)
|
Maka berjalanlah Ia ke hadapan sedikit, lalu sujudlah
Ia berdoa, kata-Nya, "Ya Bapa-Ku, jikalau boleh, biarlah kiranya cawan
ini lepas daripada-Ku; tetapi di dalam itu pun bukannya kehendak-Ku,
melainkan kehendak-Mu juga."
|
NIV
(New International Version)
|
He went away a second time and
prayed, "My Father, if it is not possible for this cup to be taken away
unless I drink it, may your will be done."
|
NKJV
(New King James Version)
|
He went a little farther and fell
on His face, and prayed, saying, "O My Father, if it is possible, let
this cup pass from Me; nevertheless, not as I will, but as You will."
|
BGT (Greek LXX)
|
pa/lin ejk deute/rou
ajpelqwVn proshuvcato levgwn. Pavter mou, eij ouj dunatai tou=to parelqei=n
ejaVn mhV aujtoV pivw, genhqhvtw toV qevlhmav sou.
|
Sumber: Bibleworks 7
(software/program).
2.1 ANALISIS KONTEKS
Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke seberang
sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama
dengan murid-murid-Nya (Yoh. 18:1).
Tempat itu bernama Getsemani[6] (Mat.26:36; Mrk. 14:32).
2.1.1
Yesus Berdoa tiga Kali
Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas,
salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan
besar orang, sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang membawa
senjata (pedang dan pentung) lengkap dengan lentera dan suluh, disuruh oleh
imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi dan tua-tua bangsa
Yahudi. Yudas berjalan di depan mereka.
Yudas mendekati Yesus untuk mencium-Nya.
Yudas yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka:
"Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia." Dan segera ia
maju mendapatkan Yesus dan berkata: "Salam Rabi," lalu mencium Dia.
Maka kata Yesus kepadanya: "Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia
dengan ciuman?" (Matius mencatat: "Hai teman, untuk itukah engkau
datang?").
2.1.2
Ciuman Yudas
Waktu
Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid
itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang, sepasukan prajurit dan
penjaga-penjaga Bait Allah yang membawa senjata (pedang dan pentung) lengkap
dengan lentera dan suluh, disuruh oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat,
orang-orang Farisi dan tua-tua bangsa Yahudi. Yudas berjalan di depan mereka.
Yudas
mendekati Yesus untuk mencium-Nya. Yudas yang menyerahkan Dia telah
memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah
Dia, tangkaplah Dia." Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata:
"Salam Rabi," lalu mencium Dia. Maka kata Yesus kepadanya: "Hai
Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?" (Matius mencatat:
"Hai teman, untuk itukah engkau datang?"
2.1.3
Murid-murid
melarikan diri
Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan
diri Mat. 26:56; Mrk.14:50; Luk. 22:51).
Ada seorang muda, yang pada waktu itu hanya memakai sehelai kain lenan untuk
menutup badannya, mengikuti Dia. Mereka hendak menangkapnya, tetapi ia
melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang (Mrk. 14:51-52).
2.1.4
Yesus
ditangkap
Maka pasukan prajurit serta perwiranya dan
penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu
Dia. Lalu mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua
Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Besar (Yoh. 18:12-13).
2.2 ANALISIS KATA
2.2.1 Maka Ia maju sedikit.(TB)
Yesus menyingkir dari
mereka. Jiwa yang sangat berduka merasa terhibur bila dia hanya berdua dengan
Allah, yang mengerti setiap rintihan dan ratap tangis.[7]
Di sini Yesus mengajarkan bahwa doa pribadi pula, tanpa diketahui orang lain.
2.2.2 Ia….sujud
Ungkapan ini berasal
dari arti harafiah ”Ia jatuh pada muka-Nya”, yaitu Ia jatuh dengan muka mencium
tanah. Namun arti harafiah ini bisa menimbulkan kesan jatuh secara tidak
sengaja. Padahal yang dimaksudkannya adalah posisi berdoa dengan
sungguh-sungguh (Lihat Kej.17:3, 17; Bil.14:5; 16:4; Yos.7:6). Beberapa
terjemahan menuliskan “menelungkupkan diri ke tanah untuk berdoa”.
Sikap tubuh-Nya waktu berdoa. Dia sujud.
Posisi-Nya yang tersungkur menandakan:
- Penderitaan yang Ia rasakan dan kesedihan-Nya yang amat sangat. Ayub, dalam kesengsaraannya, jatuh tersungkur ke tanah. Ayub, dalam kesengsaraannya, jatuh tersungkur ke tanah. Kegentaran juga ditunjukkan dengan menggulingkan diri dalam debu (Mi.1:10).
- Kerendahan hati-Nya ketika berdoa. Sikap tubuh ini menunjukkan eulabeia-rasa takut yang disertai rasa hormat terhadap Allah (yang disinggung dalam Ibr.5:7), saat Dia mempersembahkan doa, yaitu dalam keadaan-Nya yang terhina, di mana Ia pun menyesuaikan diri terhadap keadaan itu.
2.2.3 Ya Bapa-Ku
Matius menuliskan doa
Yesus dalam kalimat langsung. Ya Bapa-Ku
mengingatkan pada sapaan “Bapa Kami” dalam Doa Bapa Kami (6:9).
Setebal apapun awan
yang menghalangi, Dia tetap bisa melihat Allah sebagai Bapa, Perhatikan, dalam
segala sebutan kita untuk Allah, kita harus melihat-Nya sebagai Bapa, Bapa kita
sendiri. Hal ini terutama paling memberi penghiburan ketika dilakukan saat kita
sedang menderita. Sebutan Bapa-Ku terdengar seperti alunan
senar harpa yang merdu di saat-saat seperti itu. Ke manakah si anak harus
mengadu saat ia sedang bersedih hati, selain kepada bapanya????
2.2.4 Jikalau sekiranya mungkin
Ungkapan ini dapat juga
diterjemahkan “kalau boleh” dalam beberapa bahasa. Namun sering kali ungkapan
itu perlu diubah menjadi anak kalimat aktif dengan menyebutkan Allah sebagai
pelakunya, misalnya “kalau Bapa bersedia melakukannya”, “kalau Bapa
mengijinkan”.[8]
Dia menyebutkan
penderitaan-Nya itu seperti cawan. Dia meminta supaya cawan itu lalu dari
pada-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa Dia tentu benar-benar seorang manusia dan
sebagai seorang manusia Dia tentu saja tidak menyukai rasa sakit dan derita. Ia
benar-benar dipilih dari antara manusia (Ibr.5:1) dan turut merasakan kelemahan
kita (Ibr.4:15).[9]
2.2.5 Cawan ini
Terjemahan harafiah cawan ini (bnd. Mat.20:22) dalam
terjemahan tertentu dituliskan “cawan penderitaan ini”. Dalam PL, cawan atau
piala kadang-kadang dipakai sebagai lambang penghukuman dan pembalasan (Yes.51:17;
Yer.49:12; Yeh.23:32). Namun di sini kata itu dipakai untuk penderitaan, yang
diungkapkan dengan jelas dalam beberapa terjemahan modern. Beberapa terjemahan
lainnya menghilangkan kiasan-kiasan dan menuliskan “penderitaan ini” contohnya:
penderitaan
yang Aku harus alami ini (BIMK/BIS), “siksaan pahit ini” atau “cobaan
berat ini”.
Biarlah
cawan ini lalu dari pada-Ku: ungkapan ini bisa agak lebih harafiah kalau
diterjemahkan sebagai “izinkanlah agar cawan penderitaan ini lepas dari-Ku”,
atau “izinkan Aku untuk tidak harus mengambil cawan penderitaan ini”. Contoh
lain dalam bentuk permintaan atau seruan, misalnya “tolong, ambillah cawan
penderitaan ini”, atau “biarkan Aku terhindar dari keharusan mengalami
penderitaan ini”.
2.2.6 Tetapi janganlah seperti yang
Kukehendaki, melainkan…
Ungkapan ini
diterjemahkan dari kata-kata yang secara harafiah berarti “tetapi jangan
seperti Aku inginkan/ kehendaki, melainkan seperti Engkau (inginkan/ kehendaki)”.
Ini bisa diterjemahkan menjadi misalnya “tetapi hal yang akan terjadi janganlah
dengan cara Aku inginkan”. BIMK menuliskan dengan lebih singkat, tetapi
jangan menurut kemauan-Ku.
Sikap-Nya benar-benar
berserah untuk melakukan kehendak Allah. Bukan berarti bahwa kehendak manusia
yang ada dalam diri Kristus berlawanan dengan kehendak sorgawi. Dan alasan mengapa
Kristus berserah untuk menjalani penderitaan-Nya, adalah demi melaksanakan
kehendak Bapa-Nya, seperti yang Engkau
kehendaki (ay.39).
2.2.7 Melainkan seperti yang Engkau
kehendaki
Bagian kalimat ini
dalam BIMK dituliskan melainkan menurut kemauan Bapa saja.
Suatu terjemahan lain membalikkan urutan kedua anak kalimat itu, menjadi
”Tetapi yang seharusnya terjadi adalah yang Bapa inginkan, bukan yang Aku
inginkan”.
Dia
mengucapkan doa-Nya yang sama (ton auton
logon/kata yang sama) untuk ketiga
kalinya. Wajar jika kita berpikir bahwa bukan itu saja yang dikatakan-Nya dalam
doa-Nya malam itu, karena dalam ayat 40 dapat dilihat bahwa Dia terus berjuang
dalam derita-nya dan berdoa selama satu jam. Akan tetapi, apapun itu yang di
doakan-Nya, pastilah berkaitan dengan permohonan-Nya supaya dilalukan dari
penderitaan yang sedang menjelang, namun Ia tetap berserah pada kehendak allah
dalam penderitaan itu, tanpa terkekang dengan apapun ungkapan yang Ia pakai
untuk menyatakan hal itu.
BAB
III
KESIMPULAN
Pertama, Doa Sumber
Kekuatan Menghadapi Masa Sulit (Matius 26:36-38)
Yesus memberikan
teladan yang sangat baik bagi kita. Ternyata masalah bukanlah untuk dihindari,
tetapi untuk diselesaikan. Dan, cara penyelesaiannyapun harus benar. Yesus
tidak menghindar dari kenyataan yang ada. Yesus tidak menghindar dari kehendak
Bapa atas diri-Nya.
Banyak orang berpikir
bahwa doa adalah sesuatu yang sia-sia. Sesuatu yang tidak ada gunanya. Bahkan
mungkin ada yang berpikir bahwa doa adalah kerjanya orang-orang nganggur. Atau,
kerjanya orang-orang tua yang tidak mempunyai kegiatan. Untuk mengisi waktu
lowong maka dia berdoa. Benarkah demikian?
Yesus memberi teladan,
bahwa doa bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Kalau doa sesuatu yang sia-sia,
sangat tidak mungkin Yesus berdoa. Kalau doa sesuatu yang sia-sia, tidak
mungkin Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami.
Ketika Yesus berada
dalam pergumulan berat, Dia berdoa kepada Bapa di Surga. Ada orang yang
berpendapat bahwa kekuatan dan kemenangan Yesus menghadapi penderitaan berawal
dari doanya di Getsemani. Saya setuju dengan pendapat itu. Mengapa ? Karena
Kitab Suci mengatakan :
Tuhan
dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru
kepada-Nya dalam kesetiaan. (Mazmur 145:18)
Tuhan
itu dekat kepada orang-orang yang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan
orang-orang yang remuk jiwanya (Mazmur 34:19)
Kedua,
Doa Tidak Memaksakan Kehendak Kepada Bapa (Matius 26:39-40)
Alkitab tidak pernah
mengajarkan bahwa Allah memiliki kewajiban untuk menjawab dengan cara yang kita
inginkan atau hanya karena banyak orang yang berdoa. Ketika Anak Allah, Yesus
Kristus Tuhan menderita di Getsemani, Dia mengajukan permohonan dengan
penyerahan yang rendah hati kepada Bapa-Nya dan berkata:...”jadilah kehendak-Mu
(Matius 26:42)”.
Prinsip doa di
Getsemani itu harus mendominasi doa-doa kita. Kehendak Bapa selalu mengandung
kasih dan hikmat yang tidak terbatas. Oleh karena itu, daripada memaksa Allah
karena mengira bahwa Dia wajib menjawab doa yang kita kehendaki, seharusnya
kita sebagai anak-anak yang percaya kepada-Nya dengan senang hati menyerahkan
semua keinginan kita kepada-Nya. Apapun yang Dia anugerahkan akan terbukti
menjadi berkat terbaik dalam hidup kita.
Ketiga,
Semangat Doa Tidak Terpengaruh Keadaan.
Dalam masa-masa penuh
pergumulan, biasanya kita sangat membutuhkan teman yang dapat menopang kita
dalam pergumulan yang sedang dihadapi. Hal ini tentunya sangat baik dan
diperlukan. Di antara saudara-saudara seiman kita sering mendengarkan
kata-kata seperti ini. “Doakan saya ya, saya sedang berada dalam masalah yang
berat”. Namun masalahnya, jika tidak ada yang mendukung bagaimana?
Tuhan Yesus dalam
pergumulan di Getsemani mengalami kesendirian juga. Memang Dia membawa
murid-murid-Nya, Petrus, Yakobus dan Yohanes, namun tidak bisa berjuang bersama
Dia karena rasa ngantuk yang menyerang. Murid-murid malah tertidur (39, 42,
44). Murid-murid seharusnya mendukung sang Guru yang sedang bergumul. Tetapi
kenyataannya mereka membiarkanNya seorang diri.
Namun, apakah Yesus patah semangat?
Ternyata, tidak!
BAB
IV
APLIKASI
Bagaimana dengan perjuangan doa kita
selama ini ?
- Apakah kita selalu mencari Tuhan tatkala kesulitan besar menindih hidup ini?
- Apakah kita selalu berdoa dengan rendah hati dan tidak memaksakan kehendak kepada Bapa?
- Apakah doa kita tidak terpengaruh dengan kondisi buruk yang kita alami dan berada di sekitar kita?
Mari kita belajar untuk
senantiasa ingat apa yang dialami Yesus di Taman Getsemani ketika masalah itu
datang. Kita harus tetap percaya bahwa ada Tuhan yang memperdulikan kita dan
menolong kita di saat kesesakan itu datang (problema). Tetaplah untuk
senantiasa berdoa kepada-Nya dan bersyukur kepada Tuhan di saat suka maupun
duka. Ketika kita menderita, perhatikan. Mungkin itulah saat dimana kita berada
paling dekat dengan Tuhan. Kita harus semakin mendekat kepada Tuhan dan
tergantung pada-Nya.
Kita juga harus semakin
merendahkan diri di hadapan Tuhan. Sebagian besar doa-doa kita adalah daftar
doa untuk pemenuhan kebutuhan dan bukan doa yang membutuhkan Tuhan. Sekarang
kita harus mengubah paradigma kita dalam setiap permohonan doa. Biarkan
kehendak Tuhan yang jadi dan bukan kehendak kita/kemauan kita. Terkadang kita
terlalu egois dalam berdoa. Tidak mau mengerti apa yang Tuhan mau/ rindukan
dalam setiap doa-doa permohonan kita.
Berdoa dengan tanpa
dipengaruhi oleh keadaan adalah sangat baik. Walaupun tidak ada yang mendukung
kita dalam menghadapi masalah tersebut. Tetaplah kita senantiasa tetap berdoa
dan berserah kepada Tuhan. Dialah Tuhan yang mengerti dan sanggup membuka jalan
setiap pergumulan dan yang akan menolong kita yang berharap pada-Nya. Kita
harus senantiasa bersyukur..
DAFTAR PUSTAKA
Bibleworks 7 (software/program).
Douglas, J.D. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini-Jilid 1-2.
Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih. 2008.
Guthrie, Donald.
Pengantar Perjanjian Baru. Surabaya:
Momentum. 2008.
Guthrie, Donald. Tafsiran Alkitab Masa Kini-Jilid 3. Jakarta:
Yayasan Komunikasi Bina Kasih. 2006.
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru. Jakarta:
BPK Gunung Mulia. 2006.
Henry, Matthew. Injil Matius 15-28. Surabaya:
Momentum. 2008.
http://id.wikipedia.org
http://newsletters.cephasministry.com/papyrus6.99.htm
http://www.ppa.or.id
http://www.sabda.org
LAI. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab
Indonesia. 2011.
MacArthur, Jr. Jesus’
Pattern of Prayer. Chicago: Moody. 1981.
Newman, Dr. Barclay. Pedoman Penafsiran Alkitab: Injil
Matius-Edisi Kedua. Jakarta: LAI. 2008.
Tenney, Merril C. Survei Perjanjian Baru. Malang:
Gandum Mas. 2003.
Tulluan, Rev. Ollo. Introduksi Perjanjian Baru.
Malang: YPPI. 2008.
[1] Dalam bahasa Yunani, kata berdoa
adalah proseuvxomai (prosefkhomai). Ini berasal dari
dua kata yaitu provs
(pros) dan eujvxomai (efkhomai). Pros adalah kata
depan atau preposisi yang berguna untuk menekankan intensitas dari kata yang
mengikutinya sekaligus menunjuk kepada arah ke depan. Sedangkan efkhomai
berarti “harapan” atau “kehendak”. Secara etimologi kata berdoa berarti
“harapan dan keinginan yang kuat ke depan,” atau “harapan dan keinginan yang
sangat kuat untuk mendatang.”
Definisi doa adalah hubungan persekutuan dengan
Allah, atau lebih tepatnya Doa adalah komunikasi pribadi dengan Allah. Menurut
KBBI adalah permohonan, harapan, permintaan, pujian kepada Tuhan.
[2] http://id.wikipedia.org
[3] Bdk. Mat 10: 2-4; Mrk 3: 16-19;
Luk 6:13-16; Kis 1:13
[4] Bdk. Mat 9:9
[5]
http://newsletters.cephasministry.com/papyrus6.99.htm
[6] Tempat di mana Yesus membawa
para murid untuk berdoa sebelum Yesus ditangkap, dalam bahasa Yunani ditulis Geqshmani
- Gethsêmani.
Kata ini padanan bahasa Aram Gath-Šmânê, pemerasan minyak atau tempat minyak
(maksudnya minyak zaitun).
[7] Pernyataan Calvin berikut ini
perlu diingat: “Alangkah baiknya bila kita menyendiri untuk berdoa, karena jiwa
yang setia dapat mengungkapkan segala permohonan, ratapan, kekuatiran,
ketakutan, harapan, dan sukacita dengan cara yang sederhana dan intim ke
hadapan Allah.
[8] Lihat LAI. Pedoman Penafsiran
Alkitab. Jakarta: LAI. 2008. Hal.822.
[9] Bahkan dalam Luk.22:44, tentang
peluh yang seperti titik-titik darah, menurut Dr. Frederick Zugibe (Kepala
Penguji Medis dari Rockland County, New York) kondisi ini luas diketahui, dan
telah banyak kasus seperti ini. Istilah klinisnya adalah "hematohidrosis."
"Sekitar kelenjar keringat, ada banyak pembuluh darah berbentuk seperti
jaring." Di bawah tekanan yang besar pembuluh - pembuluh tersebut
menyusut. Kemudian saat kegelisahan berlalu "pembuluh darah mengembang
sampai mencapai ambang pecah. Darah mengalir masuk ke kelenjar keringat."
Sementara kelenjar keringat menghasilkan banyak keringat, darah terdorong ke
permukaan kulit - keluar sebagai tetesan darah.
Langganan:
Postingan (Atom)
